Blok-a.com – Banjir besar melanda sejumlah wilayah di Provinsi Bali, setelah hujan deras mengguyur sejak Selasa (9/9/2025). Bencana ini merusak infrastruktur, merendam permukiman, dan memaksa warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa banjir melanda tujuh kabupaten/kota di Bali dengan lebih dari 120 titik terdampak. Kota Denpasar tercatat sebagai wilayah paling parah dengan 81 titik banjir, diikuti Gianyar 14 titik, dan Badung 12 titik.
Di Kabupaten Jembrana, banjir menerjang rumah-rumah warga serta fasilitas umum. Sementara itu, banjir mengepung Kota Denpasar sejak Rabu (10/9/2025) pagi, hingga menyebabkan kantor pemerintahan dan sekolah harus ditutup.
Sementara itu, BMKG mencatat curah hujan harian di Jembrana mencapai 385,5 mm. Sebagai pembanding, curah hujan di atas 150 mm per hari saja sudah digolongkan ekstrem. Beberapa wilayah lain juga menunjukkan angka yang tinggi, seperti Tampaksiring dengan 373,8 mm dan Karangasem sebesar 316,6 mm dalam sehari.
BNPB mencatat total korban meninggal dunia mencapai 16 orang, seluruhnya telah dievakuasi oleh tim gabungan di lapangan. Selain itu, sejumlah jalan, jembatan, dan ratusan kios mengalami kerusakan. Data sementara mencatat sedikitnya 474 unit kios atau ruko terdampak banjir.
3 Faktor Penyebab Banjir di Bali
Tingginya curah hujan yang memicu banjir ini ternyata dipengaruhi oleh kondisi atmosfer tertentu. Salah satunya adalah aktifnya gelombang Rossby ekuator yang memicu pembentukan awan hujan dalam jumlah besar.
Gelombang Rossby Ekuator
Bali saat ini disebut sedang memasuki masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Tingginya curah hujan yang memicu banjir ternyata dipengaruhi oleh kondisi atmosfer tertentu. Salah satunya adalah aktifnya gelombang Rossby ekuator yang memicu pembentukan awan hujan dalam jumlah besar.
Gelombang Rossby sendiri merupakan gelombang atmosfer yang bergerak ke arah barat di sekitar khatulistiwa dan dapat meningkatkan pembentukan awan hujan. BBMKG memprediksi cuaca ekstrem ini masih akan berlangsung hingga keesokan harinya, meski intensitas hujan diperkirakan mulai menurun.
Hal itu juga disampaikan Dwikorita Karnawati selaku Kepala BMKG. Ia menjelaskan bahwa hujan ekstrem yang melanda Bali dipicu oleh kombinasi faktor atmosfer skala global dan lokal. Menurutnya, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby ekuator yang berlangsung secara bersamaan, ditambah kondisi atmosfer yang labil, memicu terbentuknya awan konvektif dalam jumlah besar. Hal ini menyebabkan curah hujan meningkat drastis di wilayah Bali.
“Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby ekuator yang aktif bersamaan dengan kondisi atmosfer labil di Bali memperbesar risiko terbentuknya awan konvektif secara masif,” ujarnya di Jakarta, Jumat (12/9/2025), dikutip dari laman resmi BMKG.

Alih Fungsi Lahan
Selain dipicu oleh anomali cuaca, banjir di Bali juga diperburuk oleh masalah tata ruang, terutama alih fungsi lahan yang tak terkendali. Putu Rumawan dari Departemen Arsitektur Universitas Udayana menjelaskan, pesatnya pariwisata mendorong pertumbuhan penduduk yang tinggi hingga lebih dari 4 juta jiwa, dengan hampir 1 juta di Denpasar. Kepadatan ini membuat lahan sempit diolah menjadi permukiman, termasuk di sempadan sungai, sehingga aliran air menyempit dan mudah meluap saat hujan deras.
“Belum lagi akibat pendangkalan, pencurian lahan untuk bangunan dan lain-lain, itu menjadikan semakin susah penyaluran air dari penyaluran primer sampai ke tersier,” ungkap Rumawan, dikutip dari Liputan6, Kamis (11/9/2025).
Selain itu, alih fungsi sawah menjadi bangunan memperparah tata ruang kota. Banyak lahan tertutup beton sehingga air sulit meresap, sementara Denpasar yang berada di dataran rendah menampung limpahan air dari daerah hulu.
Rumawan menekankan perlunya penegakan ketat aturan tata ruang dan izin pembangunan agar bencana serupa tidak terulang, karena dampaknya kini bukan hanya kerugian materi, tetapi juga menelan banyak korban jiwa.
Pertumbuhan Lahan Terbangun
Dalam rentang waktu 2018 hingga 2023, perluasan wilayah perkotaan dan pertumbuhan lahan terbangun menjadi salah satu faktor utama berkurangnya lahan pertanian, khususnya sawah di kawasan Metropolitan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan). Penyusutan lahan sawah tercatat antara 3–6% dari luas wilayah masing-masing daerah.
Kota Denpasar kehilangan sekitar 784,67 hektar atau 6,23% lahan sawahnya, Kabupaten Badung berkurang 1.099,67 hektar, Gianyar menyusut 1.276,97 hektar, dan penurunan terbesar terjadi di Kabupaten Tabanan yang mencapai 2.676,61 hektar. Perkembangan wilayah yang pesat ini memicu meningkatnya kebutuhan lahan dan mempercepat alih fungsi lahan pertanian.
Hilangnya lahan pertanian juga berdampak pada berkurangnya fungsi Subak, sistem irigasi tradisional Bali yang berperan penting menjaga keseimbangan hidrologis. Menurut pakar Subak Prof. Windia, setiap satu hektar sawah mampu menampung hingga 3.000 ton air dengan ketinggian air 7 cm.
Direktur Walhi Bali, Made Krisna Dinata menegaskan, jika semakin banyak lahan pertanian dan jaringan Subak berubah menjadi bangunan, maka kemampuan tanah menampung serta menyalurkan air akan terganggu, sehingga risiko banjir pun meningkat seperti yang terjadi saat ini.
Hingga Jumat (12/9/2025), petugas gabungan masih terus mendata secara rinci jumlah bangunan rumah, jalan, jembatan, maupun fasilitas publik yang rusak. Untuk mempercepat pemulihan dan menjamin kebutuhan para penyintas di pengungsian, BNPB telah menyalurkan bantuan logistik serta peralatan pendukung lainnya. (mg2/gni)
Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)




