Kota Malang, blok-a.com – Universitas Islam Malang (Unisma) menegaskan komitmennya sebagai kampus yang menjunjung tinggi nilai anti kekerasan, anti perundungan, dan anti radikalisme. Rektor Unisma, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D menyebut pihaknya sudah lama mendeklarasikan sikap tersebut, termasuk membentuk satuan tugas khusus untuk mencegah terjadinya perundungan.
“Kita sudah mendeklarasi Unisma sebagai kampus yang anti kekerasan, anti perundungan, anti radikalisme. Sudah diklarasi beberapa tahun yang lalu. Jadi jangan khawatir,” ujar Junaidi.
Tak hanya itu, Unisma juga menegaskan tidak menerima praktik titip-menitip dalam proses penerimaan mahasiswa baru. Menurut Junaidi, seluruh proses seleksi harus berjalan murni demi menjaga kualitas calon mahasiswa.
“Oh kami tidak menerima titip menitip. Itu harus murni. Karena ini menyangkut banyak hal. Dengan tidak ada titip menitip itu, calon mahasiswa benar-benar mempersiapkan diri dengan baik,” tegasnya.
Untuk Fakultas Kedokteran, Junaidi menjelaskan proses seleksi dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari tes bidang studi, tes psikologi, hingga tes wawancara yang juga mencakup pemeriksaan kesehatan dasar seperti buta warna. Tes tersebut akan berlangsung pada 25–29 Agustus 2025.
“Bidang studi ada juga tes psikologi, tahap kedua nanti tesnya akan diselenggarakan tanggal 25 sampai 29. Setelah itu ada tes wawancara yang juga ada tes berkenaan dengan penglihatan. Jangan sampai buta warna, kalau minus masih boleh,” jelasnya.
Unisma juga memberi ruang bagi mahasiswa yang berasal dari pesantren dan memiliki tradisi menghafal Al-Qur’an. Menurut Junaidi, pihak kampus memfasilitasi mahasiswa tersebut agar bisa mengembangkan potensinya secara seimbang.
Mahasiswa kedokteran Unisma juga difasilitasi dengan kerja sama berbagai rumah sakit mitra, selain di RSI Unisma. Skema ini bertujuan memberikan pengalaman belajar sesuai bidang spesialisasi masing-masing.
“Kita kerjasama dengan banyak rumah sakit terkait dengan kebutuhan pembelajaran mahasiswa pada program profesinya. Misalnya, pada saat mahasiswa harus belajar tentang paru di rumah sakit yang mana, saat belajar yang lain di rumah sakit yang mana,” tutupnya. (yog/bob)




