Kisah Guru Honorer Terpencil di Kabupaten Jombang Kurang Diperhatikan

Kabupaten Jombang, blok-A.com – Guru honoerer asal Jombang mengeluh persoalan gaji yang tak seberapa itu pencairannya terhambat, Selasa (27/09/2022).

Guru honorer kini telah membludak populasinya, ditambah lagi dengan adanya guru PPPK. Namun, kesejahetraannya kian terabaikan oleh Pemerintah terbukti dari gaji yang tak seberapa itu terhambat pencairannya.

Salah satu guru honorer sekolah terpencil di Jombang yang enggan disebut namanya ini mengeluh, gaji yang diterima tidak turun tepat waktu. Terlebih saat BBM naik seperti sekarang ini, ia mengaku gaji yang tak seberapa itu tak mampu membiayai hidupnya.

Dengan menerima gaji sebesar Rp 200 ribu perbulan dengan jarak sekolah cukup jauh. Dia harus menempuh kurang lebih 13 kilometer dengan waktu tempuh 35 sampai 40 menit. Walaupun begitu, hal itu rela ia jalani setiap harinya untuk pendidikan anak anak terpencil di Kabupaten Jombang.

Sang guru honorer yang tak ingin disebut namanya pun mengatakan telah mendapat bantuan dari pemerintah pusat sebanyak Rp 1,5 Juta perbulan.

“Kalau gajian sering telat kadang sampai 2-3 bulan, tapi syukur tunjangan gak pernah telat perbulannya 1,5 Juta tapi ya itu cairnya pertiga bulan sekali,” jelasnya.

Menurutnya yang terpenting adalah pendidikan untuk anak – anak didiknya, ia mengatakan sangat senang melihat anak anak didiknya bisa tetap belajar.

“Meskipun murid cuma 9 siswa, tapi seneng melihat antusias tinggi mereka mau belajar,” paparnya.

Ia mengaku, gaji yang tak seberapa itu sering kali telat pencairannya. Diselah selah gaji yang telat ia harus tetap membeli BBM yang semakin melonjak, dengan demikian ia harus mencari pendapatan lain diluar mengajar di sekolah.

“Saya ngelesin, ada 3 sesi setiap harinya untuk anak SD. Alhamdulillah, meskipun gak banyak tapi uangnya bisa untuk beli bensin setiap harinya,” tambahnya.

Di akhir dia berharap agar nasib guru honorer sepertinya lebih diperhatikan kembali. Terlebih untuk guru yang mengajar di daerah terpencil, karena menurutnya hal tersebut tidak lah mudah.

“Harapannya semoga pemerintah lebih memperhatikan nasib guru honorer apalagi yang ngajar di daerah terpenting, ini tidak mudah bagi kami tapi kami tetap bertahan untuk pendidikan anak pedalaman,” pungkasnya. (ptu/bob)

Exit mobile version