Perdana di Mojokerto, Mobil Mikroplastik Journey Kunjungi MIN 2 Mojokerto, Ajarkan Siswa Bahaya Mikroplastik

Ecoton saat memberikan pembelajaran tentang mikroplastik kepada siswa MIN 2 Mojokerto (foto: Blok-a.com/Syahrul Wijaya)
Ecoton saat memberikan pembelajaran tentang mikroplastik kepada siswa MIN 2 Mojokerto (foto: Blok-a.com/Syahrul Wijaya)

Mojokerto, Blok-a.com – Mobil Mikroplastik Journey milik Ecoton untuk pertama kalinya hadir di Mojokerto, Rabu (12/8/2026). Lebih dari 200 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Mojokerto mengikuti pembelajaran tentang mikroplastik. Mereka juga diajak melakukan penelitian sederhana untuk mengetahui keberadaan mikroplastik di lingkungan sekitar.

Siswa kelas 1 hingga kelas 6 secara bergantian mengunjungi mobil Mikroplastik Journey. Di dalam mobil edukasi tersebut, siswa dikenalkan pada perjalanan plastik hingga berubah menjadi mikroplastik, sumber paparan mikroplastik, serta dampaknya bagi lingkungan dan kesehatan.

Tidak hanya belajar, siswa juga menjadi peneliti cilik. Mereka mengambil sampel dan mengamati keberadaan mikroplastik pada udara indoor dan outdoor, air, daun, serta kulit tangan.

Salah satu kelompok, yaitu Kelompok 7, melakukan penelitian mikroplastik pada udara di dalam ruangan. Hasil pengamatan menemukan 2 fiber, 2 filamen, dan 9 fragmen. Sementara pada udara luar ruangan ditemukan 3 fiber dan 2 fragmen.

Temuan juga diperoleh dari kulit tangan siswa, dengan total 35 fiber, 5 filamen, dan 1 fragmen. Pada sampel daun ditemukan 4 fiber, 6 fragmen, dan 2 filamen. Temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik dapat ditemukan di berbagai media yang dekat dengan aktivitas sehari-hari siswa.

Jazila, siswa kelas 5A sekaligus Ketua Kelompok 7, mengaku baru memahami bahwa pembakaran sampah tidak benar-benar menghilangkan plastik.

“Rumahku dekat tempat pembuangan sampah, baunya sering sampai rumah. Ada juga tetanggaku yang bakar sampah, asapnya sampai kecium di rumahku. Awalnya aku ngira kalau asap bakar sampah dan sampah dibakar itu bisa hilang terkena angin. Ternyata bakar sampah malah bikin mikroplastik terbentuk dan mengotori udara,” ujar Jazila.

Setelah melakukan penelitian, Jazila bersama teman-temannya menemukan mikroplastik di udara dalam ruangan berupa fiber, filamen, dan fragmen.

“Jadi tidak boleh bakar sampah. Bakar sampah bikin kita batuk-batuk dan sesak napas,” katanya.

Temuan mikroplastik pada daun di sekitar lokasi pembakaran sampah juga membuat siswa semakin memahami dampak pembakaran plastik. Alby, siswa kelas 5, mengatakan, “Berarti membakar plastik itu menghasilkan mikroplastik, karena kita menemukan banyak mikroplastik di daun yang ada di dekat pembakaran sampah”.

Kegiatan edukasi mikroplastik juga mendorong MIN 2 Mojokerto untuk memperkuat pengelolaan sampah di lingkungan madrasah. Yuli Indah Lestari, S.Pd., guru kelas 5, menyampaikan ketertarikannya untuk belajar mengolah sampah organik melalui pembuatan ecoenzym dan berkunjung ke Ecoton.

Menurut Yuli Indah Lestari, S.Pd., salah satu persoalan yang sedang dihadapi madrasah adalah banyaknya sampah sisa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Di sekolah banyak sampah sisa MBG. Kami ingin belajar bagaimana mengolahnya, termasuk belajar ecoenzym, dan ingin berkunjung ke Ecoton,” ujar Yuli Indah Lestari, S.Pd.

MIN 2 Mojokerto juga berencana mengembangkan Madrasah Mart sebagai bagian dari upaya membangun budaya lingkungan di sekolah. Madrasah tersebut juga membuka peluang kolaborasi dengan Refilin, khususnya untuk mendorong penggunaan produk isi ulang dan mengurangi sampah kemasan sekali pakai.

Kepala MIN 2 Mojokerto, Saichul Adenan, S.Pd.I., M.Pd.I., mengapresiasi kedatangan program Mikroplastik Journey ke madrasahnya. Menurutnya, edukasi yang diberikan Ecoton sejalan dengan program madrasah dalam membangun budaya peduli lingkungan.

“Terima kasih karena program Ecoton sejalan dengan program madrasah, yaitu berbudaya lingkungan. Ini sangat membantu kami untuk mengurangi sampah plastik sampai zero waste,” ujar Saichul. (Sya)

Exit mobile version