Kota Malang, blok-A.com – Hotel Pelangi merupakan salah satu hotel di Kota Malang yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.
Penetapan Hotel Pelangi sebagai cagar budaya merupakan langkah pemerintah kota untuk melindungi bangunan yang memiliki sejarah serta dapat digunakan untuk menjadi tempat wisata sejarah di kota Malang.
Dengan adanya penetapan Hotel Pelangi sebagai bangunan cagar budaya di kota Malang, maka akan lebih dijaga dan diawasi dengan serius keberadaan bangunannya oleh Pemerintah kota Malang.
Akan tetapi, dari pantauan blok-A.com Hotel Pelangi saat ini sedang melakukan pembangunan di sisi depan bangunan utama, bangunan tersebut diduga bangunan Cafe.
Hal tersebut dibenarkan oleh Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) kota Malang, Erlina Laksmiani membenarkan dugaan tersebut, menurutnya bangunan Cafe yang dibangun oleh Hotel Pelangi tidak mengurangi estetika bangunan utama.
Dalam pemaparannya Erlina menjelaskan awal mula Hotel Pelangi mengajukan terkait bangunan Cafe yang mengusung tema modern, akan tetapi pihak TACB tidak menyetujui tema tersebut karena menurutnya jika bangunan tidak selaras dengan bangunan sebelumnya akan mengganggu keasrian bangunan utama.
“Awal mula diajukan langgam yang diusung adalah bangunan bergaya modern. Kemudian kami arahkan supaya bangunan baru mengacu pada bangunan hotel Pelangi itu sendiri,” jelas Erlina saat diwawancar blok-A.com.
Saat disinggung mengenai peraturan yang mengatur cagar budaya ia mengatakan bangunan Cafe tersebut tidak menjadi masalah selagi tidak mengurangi dan menambah dalam satu bangunan utama.
“Tida apa apa selama tidak menyentuh bangunan lama yang sudah ada SK Cagar Budayanya. Karena itulah desain barunya harus bisa menyatu dengan bentuk bangunan yang lama,” lanjutnya.
Menurutnya akan lebih baik jika menambahkan bangunan baru dalam satu lingkup bangunan cagar budaya dengan mengusung tema yang sama.
Diakhir Erlina juga memaparkan terkait desain bangunan Cafe tersebut, ia menyarankan agar bangunan Cafe di desain dengan menggunakan tema Belanda agar bangunan utama dengan bangunan Cafe dapat menyatu.
“Kami menyarankan elemen elemen pada bangunan baru disesuaikan dengan elemen elemen pada bangunan lama yang ada di kanan kirinya. Nanti kalau sudah jadi akan kelihatan,” lanjutnya.
Diakhir Erlina juga memaparkan elemen elemen yang menjadi penguat karakter bangunan Cafe yang baru seperti pintu, jendela yang dibuat dengan model yang sama agar bangunan Cafe tidak terlihat asing bagi masyarakat.
“Kurang lebih seperti pintu, jendelanya dibuat dengan model yang hampir sama, sampai dengan detil lampunya. Intinya ketika bangunan itu jadi kalau dilihat seperti bagian dari bangunan lamanya, bakan sebagai bangunan asing yang tidak menyatu dengan yang lama,” pungkasnya. (mg2/bob)




