Ip Man: 3 Strategi untuk Tumbuhkan Role Model Kebangsaan

IP Man. (fareastfilm.com)
IP Man. (fareastfilm.com)

Semua elemen bangsa ini patut menyadari bahwa perlunya menenanamkan energi akademis paling banter dalam berbahasa. Dan daruratnya pemerintah, rakyat, instrumen bangsa, untuk memberi dukungan satu sama lain dalam hal emosional, finansial, dan spiritual, kepada warganya yang bergerak. Memberi sumbangsih positif di bidang yang ditekuninya masing-masing, bagi kemajuan dan ‘keterkenalan’ republik ini di mata dunia. Seperti Putri Ariani, yang diapresiasi oleh pemerintah RI, hingga sejumlah badan kerja negara juga mengundangnya. Di antaranya KemKominfo dan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Meski begitu, ada juga oknum yang menyebut bahwa ini gimmick pemerintah. Dan jika berita Putri tidak melejit lebih dulu, tidak akan diangkat. 

Dari semua ini, pemikiran Prof. James Der Derian dalam buku “Virtuous War: Mapping the Military-Industrial-Media-Entertainment Network” mengingatkan bahwa ada matrix MIME-NET (Military-Industrial-Media-Entertainment Network) dalam teorinya, yaitu teori virtual. Teori ini ia harap dapat menggerakkan penstudi HI untuk mencerna global event berdasarkan data yang digambarkan di lapangan.

Data yang disajikan bukan untuk mengintervensi dan mengeksplanasi suatu peristiwa, melainkan hanya menginterogasi dan mendeskripsikannya.

Meski teori virtual Prof. Derian ini berseberangan dengan semangat kaum realis, keberadaan matriks MIME-NET dapat menjadi additional tribute dalam memetakan konsep keamanan yang semakin BANI (brittle, anxious, non-linear, and incomprehensible) dan VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous) hari ini.

Kembali ke Ip Man dan ledakan influensinya dalam industri hiburan dan beyond of that, pada akhirnya diperlukan 3 jalan untuk mengisi kekosongan role model kebangsaan. Merawat, juga menumbuhkannya:

Pertama, untuk mematahkan stigma sekelompok publik yang belum dapat memberikan kepercayaan mereka yang utuh, maka pemerintah secara nasional harus mampu menerima pemikiran yang menjadi tanggapan warganya.

Pemerintah memperbaiki kondisi, meningkatkan akuntabilitas publik. Dengan begitu, asumsi akan terpatahkan.

Pemerintah dalam hal ini juga perlu merangkul, memfasilitasi anak-anak negeri yang berprestasi. Umumkan prosedurnya bagaimana, beri pengarahan terstruktur dan terukur.

Hal ini tergambar dari series Ip Man 1, ketika Kapten Li mendukung dan mendeklarasikan perguruan bela diri yang [seyogyanya harus] didirikan oleh Ip Man sebagai modal di masa damai dalam mempersiapkan masa kritis (pre-emptive strategy), tepat setelah Jin dan geng-nya membuat onar di wilayah Kapten Li.

Kedua, warga negara yang memegang kontribusi positif atau mereka yang [masih] meyakini bahwa perubahan progresif akan segera terealisasi, harus terus direngkuh. Diramaikan pemerintah untuk dapat menjadi transfer daya bagi dan ke yang lainnya.

Ini diilustrasikan Ip Man 1, ketika scene Ip Man menasehati Yuan:

“…setiap orang harus menentukan jalannya.”

Ketiga, untuk warga yang ‘bersemangat’, terus juga ambil peran. Tidak apa. Ini menjadi bukti bahwa demokrasi berjalan. Kritikan konstruktif (bold) rakyat tidak ada batasan. Namun rakyat jangan lupa juga untuk menjaga komitmen sendiri. Serta kontribusi apa yang telah dibuat hari ini dan nanti?

Poin ketiga ini terkenang dalam Ip Man 1. Sewaktu para master kung fu di Foshan mencela Kapten Li karena dinilai bersekutu dengan Miura (Nippon), dan mengorbankan rakyatnya sendiri.

Ketersinambungan poin ketiga ini ada di poin pertama juga. Yaitu ketika berhasilnya Kapten Li menembak mati Jenderal Sato. Meski sebelum itu, Ip Man lebih dulu ditembak.

Semakin menggugah, poster Ip Man 5 baru saja dirilis Donnie Yen di Instagramnya. Namun, harapan untuk scenes yang logis dan kompleks semakin diharapkan. Misal, kurang subtil diterima di kepala ketika di series keempat Ip Man hadir di kamp navy USA. While if we brought it to the real table, he would be arrested or even most probably, died.

Di lain sisi, ada harapan agar bawang merah tidak diletak terlalu banyak. Sebab, Ip Man is originally from China. Bukan buatan India, apalagi Libya. Salam, antidote VUCA (vision, understanding, clarity, agility).

(*) Penulis adalah Pendiri ‘rumah berbagi’ dan studi demokrasi dan keamanan internasional, Pekanbaru, Riau.

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?