Kota Malang, blok-A.com – Masyarakat dihimbau untuk waspadai Gagal Ginjal Akut Pada Anak (GGAPA) yang diikuti dengan gejala menurunnya produksi urin pada anak, Kamis (20/10/2022).
Sehubung dengan maraknya kasus GGAPA yang ada di Jawa Timur, serta sebagai rumah sakit rujukan. Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) menggelar pers conference, yang dihadiri oleh beberapa dokter yang menangani kasus tersebut.
Salah satunya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Malang Raya, Dr dr Harjoedi Adji Tjahjono, Sp. A (K), menuturkan gejala GGPA yang sering dialami yakni dengan menurun atau berkurangnya produksi urin pada anak.
“Mewaspadai gejala gejala GGPA yang mendadak ini, yaitu dengan adanya gejala berkurangnya atau tidak adanya buang air kecil terutama balita, seperti 12 jam ia tidak kencing atau 24 jam sangat berkurang kencingnya itu perlu diwaspadai,” tuturnya pada awak media.

Sesuai yang disampaikan oleh Kementrian Kesehatan RI, dr Harjoedi menyampaikan himbauan untuk tenaga kesehatan khususnya dokter anak diharapkan untuk terus melakukan pemantauan dan pelaporan terkait kasus GGAPA di kota Malang.
Tak hanya itu, dr Harjoedi juga menyebutkan RSSA kota Malang merupakan salah satu dari 14 rumah sakit rujukan, sebab RSSA memiliki peralatan untuk menangani kasus tersebut serta memiliki dua dokter konsultan ginjal khusus anak.
“Kemenkes dalam surat edarannya menunjuk 14 rumah sakit, salah satunya RSSA sebagai pusat rujukan karena peralatan untuk menangani kasus GGAPA sudah ada dan terdapat dua konsultan ginjal anak untuk membantu menangani pasien pasien,” tuturnya.
Lebih lanjut, untuk sementara waktu masyarakat dihimbau agar tidak menggunakan obat untuk anak berbentuk cair ataupun sirup.
“Himbauan untuk masyarakat sementara hindari obat obat dalam bentuk cair atau sirup, sambil menunggu pengumuman lebih lanjut dari Kemenkes dan BPOM tentang penyebab pastinya penyebab GGAPA,” pungkasnya.
Sebagai informasi pelengkap, pasien dengan kasus GGAPA di RSSA kota Malang yang disebutkan oleh, dr. ahli nefrologi, dr. Krisni S, Sp. A (K). Menurut data dari bulan Agustus hingga saat ini (20/10), sebanyak 56 persen pasien mampu survive, sedangkan 30% pasien meninggal dunia dan selebihnya pasien sedang menjalani pengobatan. (ptu/bob)




