Kota Malang blok-a.com– Pelataran Gereja Katolik Kayutangan kembali digunakan sebagai tempat pelaksanaan Salat Idul Fitri. Tradisi yang telah berlangsung lama ini menjadi bukti nyata toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Kota Malang.
Romo Yoris Pokar, yang bertugas di gereja tersebut, mengungkapkan bahwa penggunaan halaman gereja untuk Salat Idul Fitri sudah berlangsung turun-temurun, bahkan sebelum dirinya bertugas di sana.
“Salat Id ini menggunakan halaman gereja memang sudah lama. Memang dulu itu saya tidak tahu tahun berapa, tetapi sudah menjadi kebiasaan. Awalnya ada surat resmi dari Masjid Jamal, tetapi lama-kelamaan ini menjadi tradisi. Sekarang, kami dengan sendirinya membuka halaman gereja untuk saudara-saudara Muslim,” ujar Romo Yoris.
Lebih lanjut, Romo Yoris menjelaskan bahwa Gereja Katolik memang mengajarkan cinta kasih dan toleransi, yang kini diperkuat dengan konsep moderasi beragama. Oleh karena itu, umat Katolik didorong untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan bersama umat Muslim, tidak hanya saat Salat Id, tetapi juga dalam berbagai kegiatan sosial lainnya.
“Respon dari umat Katolik sendiri sangat positif. Kita diajarkan cinta kasih, toleransi, dan moderasi beragama. Maka, kita menggiatkan umat untuk terlibat dalam kegiatan seperti ini. Tidak hanya Salat Id, tetapi juga berbagai kegiatan lain bersama saudara-saudara Muslim,” tambahnya.
Setiap tahun, pihak gereja bersama umat Katolik, para biarawan-biarawati, mahasiswa dari berbagai universitas, hingga frater-frater turut membantu persiapan Salat Idul Fitri. Mereka menyiapkan fasilitas agar umat Muslim bisa beribadah dengan nyaman.
“Biasanya dulu kita siapkan koran, tapi sekarang kita menyiapkan banner sebagai tempat sajadah. Tapi mereka sering membawa sajadah sendiri. Ini sederhana, tetapi menjadi bagian dari dukungan kami dalam pelaksanaan Salat Id,” jelas Romo Yoris.
Salah satu jemaah yang ikut Salat Id di pelataran Gereja Kayutangan, Yudi, mengaku terharu dan bersyukur bisa melaksanakan ibadah di tempat tersebut. Menurutnya, ini bukan hanya tentang berbagi tempat, tetapi juga simbol kebersamaan dalam keberagaman.
“Saya merasa sangat bersyukur dan terharu. Ini bukan hanya tentang tempat ibadah, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa hidup berdampingan dalam damai. Saya melihat ini sebagai wujud nyata dari toleransi dan persaudaraan antarumat beragama,” ujar Yudi.
Karena kapasitas masjid sekitar yang terbatas, pelataran gereja menjadi alternatif strategis agar jemaah dapat beribadah dengan nyaman.
“Masjid di sekitar sini tidak cukup menampung semua jemaah yang hadir untuk Salat Id. Karena itu, panitia mencari alternatif lain yang masih terjangkau. Kebetulan pihak gereja dengan tangan terbuka menawarkan pelataran mereka,” tambahnya.
Yudi berharap tradisi toleransi seperti ini terus berlanjut dan bisa menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun masyarakat yang harmonis.
“Ini adalah contoh nyata bahwa toleransi bukan hanya teori, tetapi bisa diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Saya berharap semangat kebersamaan ini terus berlanjut, bukan hanya saat hari besar keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,tutupnya.
Pemerintah dan aparat keamanan juga turut mendukung dan memastikan kelancaran pelaksanaan Salat Id di pelataran gereja. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menjaga harmoni dan kedamaian di masyarakat.
Dengan adanya tradisi ini, Malang kembali menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk hidup rukun, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang lebih damai dan penuh kasih.
Penulis: Mahasiswa Magang Unitri, Inok Jehalu, Olivia Mantut, Yuliana Neo Dondia)




