Tidak Percaya Pernyataan Kadiv Humas Polri Jadi Alasan Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Ajukan Otopsi

tragedi kanjuruhan, stadion kanjuruhan, gas air mata, suporter arema, aremania, tragedi kelam kanjuruhan, korban tragedi kanjuruhan, sepakbola, korban, polisi,
Caption : Tampak hape ibu Kholifah, memajang foto anaknya sebagai kenangan terakhirnya sebelum Tragedi Kanjuruhan (blok-A.com/Syams Shobahizzaman)

Kabupaten Malang, blok-A.com – Salah satu keluarga korban Tragedi Kanjuruhan buka suara soal rencana adanya otopsi.

Dia adalah Devi Athok Yulfitri. Dua putrinya, Nayla dan Natasya meninggal dalam tragedi kelam Sabtu (1/10/2022) lalu. Dia pun bersedia jasad kedua putrinya untuk diotopsi.

“Saya sebagai ayah dari kedua anak saya yang menjadi korban, ya bersedia untuk dilakukan otopsi,” kata Devi.

Devi yakin untuk diajukan otopsi kepada kedua putrinya karena dia sakit hati dengan pernyataan Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo. Dalam pernyataan Dedi, gas air mata disebutkan tidak jadi sebab kematian para korban Tragedi Kelam Kanjuruhan.

Dia ingin membuktikan bahwa pernyataan Dedi itu salah dan terburu-buru. Sebab, dia melihat jasad dua putrinya sebelum dikubur terdapat hal yang tidak wajar.

“Meninggalnya korban ini kan semua, gosong, lebam-lebam menghitam itu, mengeluarkan darah dari hidung, saya itu tergugah karena pernyataan dari Kadiv Humas seperti itu,” bebernya,

Selain itu, dia juga mengajak keluarga korban lainnya untuk dilakukan otopsi. Hanya dengan otopsi, kata Devi, tujuan tragedi ini untuk diusut tuntas bisa tercapai. Keadilan bagi korban dan keluarga bisa tercapai dengan proses otopsi jasad.

“Mengusut tuntas tragedi ini agar bisa terang, demi keadilan. Jalan satu-satunya agar bisa terungkap dengan tuntas ya itu (otopsi),” tegasnya.

Rencana adanya otopsi sendiri akan dilakukan pada Rabu (18/10/2022). Awalnya akan dilakukan ekshumasi atau membawa lagi jasad yang sudah dikubur.

Ada dua keluarga korban yang kini mengajukan untuk dilakukan otopsi terhadap jasad yang telah dikubur.

Sementara itu, proses otopsi ini muncul memang dari sejumlah elemen yang merasa janggal terkait pernyataan Polri. Selama ini tidak ada gas air mata yang menjadi penyebab kematian korban.

Padahal, dari berbagai narasumber yang dihimpun blok-A.com, gas air mata adalah biang terjadinya kematian massal di malam kelam itu. Gas air mata yang ditembakkan ke tribune menyebabkan puluhan ribu suporter panik. Bahkan gas air mata itu juga ditembakkan ke akses keluar ke tribune.

Hal ini pun memunculkan desak-desakkan antara penonton yang ingin keluar dari stadion karena gas air mata. Beberapa akhirnya terjatuh, terinjak dan kehabisan napas. Akhirnya tercatat ada 754 korban dalam tragedi itu. (bob)

Exit mobile version