img 20221205 wa0020
Jalan Basuki Rahmat Zona Tiga Kawasan Kayutangan Heritage Kota Malang. (blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)

Terkuak Asal-Usul Nama Kayutangan, Ternyata Dulu ada Tanaman Menyerupai Tangan di Kota Malang

Kota Malang, blok-a.com-Kota Malang akan merayakan ulang tahunnya yang ke-109 pada tanggal 1 April 2023 Jumat (31/3/2023) Sore.

Sebagai sebuah kota yang telah berdiri selama lebih dari satu abad, Kota Malang tentu telah mengalami berbagai dinamika dan perubahan yang dapat bersifat konstruktif maupun destruktif.

Namun, salah satu contoh perubahan yang konstruktif adalah semakin terkenalnya Kota Malang dan pesona heritage-nya.

Sejak masa kerajaan hingga kolonial, Kota Malang sudah menjadi sebuah kota yang ramai dan kaya akan warisan sejarah, baik berupa bangunan, sastra, maupun tata kota kuno yang masih dapat ditemukan di sana.

Kekayaan warisan heritage yang dimaksud adalah koridor Kayutangan yang saat ini sangat terkenal dengan branding Kayutangan Heritage.

Tahukah Anda bagaimana cerita di balik penamaan Kayutangan yang kini menjadi ikon wisata Kota Malang?

“Pada abad ke-12 Masehi, daerah Kayutangan yang saat ini menjadi pusat kawasan heritage itu masih berupa hutan atau rimba belantara,” Domini BB Hera Sejarawan Jumat (31/3/2023) Siang.

Berdasarkan Prasasti Pamotoh atau Prasasti Ukir Negara yang dibuat oleh Mpu Damawan pada masa Kerajaan Kadiri, yang berangka tahun 1120 Saka atau 6 Desember 1198 Masehi, daerah Kayutangan pada zaman dahulu dikenal dengan nama alas Patang atau hutan Patang.

“Menurut Serat Pararaton, kata “Patang” berasal dari bahasa Jawa Kuno yang memiliki sinonim “Watang” yang berarti kayu,” ujarnya.

Pada masa Kerajaan Singhasari, daerah tersebut berganti nama menjadi Alas Patangtangan.

Setelah masa kolonialisme, daerah ini diberi nama dalam Bahasa Belanda Kajoetanganstraat atau Jalan Kajoetangan (ejaan lama).

Meskipun bukti sejarah yang cukup untuk hal ini sangat minim (selain dari Prasasti Pamotan yang otentik), dikisahkan bahwa pada awal berdirinya Kota Malang sekitar tahun 1914, terdapat petunjuk lalu lintas yang terbuat dari kayu dan berbentuk telapak tangan yang menunjukkan arah di daerah ini.

“Informasi tambahan yang relevan adalah bahwa seorang penduduk Kota Malang bernama Oei Hiem Hwie telah mengungkapkan bahwa ia mengingat ada tanaman dengan daun yang aneh dan menyerupai tangan yang tumbuh di sepanjang jalan Kayutangan hingga alun-alun saat ia masih kecil,” Jelasnya

Pernyataan ini sejalan dengan kesaksian Irawan, seorang karyawan dari PT Bentoel Prima, yang juga mengatakan bahwa ia pernah melihat tanaman yang serupa di Taman Indrakila, meskipun tanaman tersebut sudah tidak ada lagi saat ini.

“Demikianlah latar belakang terbentuknya nama koridor Kayutangan, yang kini telah menjadi salah satu lokasi penting dan bersejarah di Kota Malang,” tutupnya.