Tambah Jauh dari Cagar Budaya, Keaslian Jalan Ijen Kota Malang Kini di Bawah 50 Persen

Penampakan lampu di jalur pedestrian di sepanjang jalan Ijen, pada Kamis (12/10/2023). (Foto : Widya Amalia/Blok-A)

 

Kota Malang, Blok-a.com – Jalan Ijen Kota Malang yang sering dikenal sebagai Idjen Boulevard tuai banyak pro dan kontra usai dipasangnya lampu baru. Ya, lampu berlogo UMM dengan paduan warna hitam dan keemasan itu dinilai tak cocok dengan nilai sejarah Jalan Ijen. Padahal, Jalan Ijen berpotensi menjadi cagar budaya.

Sebenarnya Jalan Ijen sangatlah berpotensi Cagar Budaya. Terlebih nilai sejarah yang kuat dan melekat. Namun, sayangnya keaslian Jalan Ijen sudah di bawah 50 persen. Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi.

“Jalan Ijen itu memang berpotensi sebagai struktur cagar budaya. Tapi kita masih mencari formula sampai detik ini bahwa apa yang bisa diangkat karena keaslian dari Jalan Ijen itu sudah di bawah 50 persen, tapi model dan tampak itu memang masih sama,” ujar dia.

Menurut Rakai, lampu yang dipasang di Jalan Ijen sangat jauh dengan desain lampu awal dibangunnya Jalan Ijen Kota Malang. Pada masa kolonial Belanda, Jalan Ijen dibangun di atas bouwplan 5 untuk kaum elit. Desain lampu yang telah dipasang itu sangat jauh. Sehingga, keaslian tidak semakin tidak terjaga.

“Jelas untuk desain lampu yang ada di jalan Ijen itu yang ada logo UMM itu kurang tepat. Sebenarnya ada contoh lampu yang bisa kita pakai untuk memasang model-model lampu. Seperti di Jembatan Kahuripan,” kata dia.

Untuk kembali mengangkat Jalan Ijen sebagai cagar budaya, diperlukan pembanding yang sepadan. Kaburnya keaslian Jalan Ijen memberatkan Jalan Ijen menjadi cagar budaya. Padahal, jalan itu memiliki nilai sejarah dan sisi historis yang jelas.

Sejarah mencatat, Jalan Ijen merupakan ruang terbuka hijau menjadi jalan paling eksotis, berkelas, dan hanya ditujukan untuk kaum bangsawan saja. Rumah-rumah di kawasan Jalan Ijen didesain serupa villa dengan ukuran besar. Para kaum elit kerap menghabiskan waktu dengan melihat pemandangan gunung atau melihat bintang pada malam hari. Itulah sebabnya Jalan Ijen didesain dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang.

“Rumahnya pun desain model ‘villa’ meski dalam ukuran besar. Untuk kekhasan ciri rumah dibandingkan kawasan lain di area jalan gunung-gunung ‘Burgenbuurt’. Kenapa model villa? Karena disamping untuk hunian, rumah tersebut nyaman sebagai lokasi rekreasi laksana nginap di villa pegunungan,” papar Pemerhati Sejarah Kota Malang, Cahyana Indra Kusuma, pada (5/11/2023).

Menurut Cahyana, terkait pemasangan lampu-lampu tersebut sangatlah kurang cocok. Hal itu dinilai dari pilihan warna dan jarak antar lampu.

“Warna yang cenderung ‘ngejreng’ serta kerapatan yang ‘sangat rapat’ terlihat dipaksakan dan malah mengaburkan konsep awal kawasan ini dibangun. Kawasan ini dibangun dengan konteks ‘remang’ dengan vegetasi subur khas kota pegunungan dengan dapat melihat bintang dan langit cerah di halaman rumah masing-masing di jalan Ijen,” lanjut dia. (mg2/bob)

Exit mobile version