Tak Perlu Khawatir Terpuruk, Begini Cara Industri Periklanan Bertahan di Tengah Pandemi

Industri Periklanan
Industri Periklanan

BLOK-A – Masa pandemi seperti saat ini menuntut sebagian besar perusahaan dari berbagai sektor untuk mengelola pengeluaran mereka seefektif dan seminimal mungkin. Segala upaya dilakukan, termasuk memangkas biaya promosi dalam rangka menjaga “kesehatan” arus kas.

Padahal, di sisi lain, perubahan anggaran iklan perusahaan-perusahaan dapat berdampak pada keberlangsungan industri periklanan itu sendiri.

Kurniawan Saputro, Marketing Blok-A media juga tak memungkiri adanya tantangan yang kini dihadapi industri periklanan.

Seperti peribahasa banyak jalan menuju Roma, sebenarnya masih banyak cara yang bisa dilakukan agar bisnis terus berjalan. Salah satunya kesempatan kolaborasi yang dapat dieksplorasi dan dieksekusi baik oleh penyedia jasa iklan maupun oleh pengiklan.

Iklan digital, contohnya, yang meskipun bukan tren baru, masih dapat terus dimaksimalkan seiring dengan meningkatnya angka adopsi digital. Terlebih lagi, industri periklanan juga diharapkan dapat tetap memberi kontribusi positif bagi masyarakat selama melalui masa pandemi ini.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan industri agar bisa tetap bertahan di tengah gempuran pandemi.

1. Penyesuaian Keadaan Diiringi Kreativitas dan Kontribusi Positif bagi Masyarakat

Pandemi Covid-19 sukses mempercepat proses adaptasi digital di masyarakat. Oleh karena itu, laki-laki yang akrab disapa Wawa itu meyakini bahwa ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh suatu perusahaan untuk tetap menjaga eksistensi mereka, terutama di masa pandemi.

Keinginan dan kemauan untuk beradaptasi kini memiliki konsep biner. Bila tak mau beradaptasi, kita akan tertinggal. Sebaliknya, jika mau beradaptasi, kita akan terus maju. “Pertama, perusahaan A, misalnya, perlu melakukan perombakan digitalisasi kalau mau bertahan melewati pandemi ini. Kedua, ia juga harus dapat memberi kontribusi positif dan nyata bagi masyarakat. Ketiga, kreativitas dalam membuat ide iklan juga harus diimbangi dengan kata-kata yang kontekstual dan tak menimbulkan keresahan,” terangnya.

Di Blok-A Media sendiri, tak hanya menyediakan informasi yang berimbang dan akurat melalui artikel, namun juga menyediakan signature program yang didesain khusus untuk mengakomodasi kebutuhan brand dalam berinteraksi langsung dengan audiensnya. “Nantinya, output tersebut akan didistribusikan melalui publishers Blok-A Media yang memiliki beragam segmen pembaca,” tuturnya

2. Saling Berkerjasama di Masa Pandemi

Untuk tetap bertahan di tengah pandemi, penyedia layanan iklan harus selalu menyajikan program-program digital yang aktual, yang dapat membantu pengiklan secara nyata melalui ide-ide campaign yang tepat sasaran. Dengan demikian, mereka dapat menjalankan strategi komunikasi produk yang efisien dan tepat sasaran. Sehingga, eksistensi pengiklan selama pandemi pun tetap terjamin.

3. Perubahan Pola Konsumsi yang Berdampak pada Sektor Periklanan

Sudah menjadi rahasia umum bila kebijakan pemerintah untuk menekan angka penularan Covid-19 turut memaksa kita untuk tetap tinggal di dalam rumah. Hal ini tentu saja memicu terjadinya perubahan pola konsumsi masyarakat di Indonesia. Generasi X dan Z sebagai generasi yang mendominasi demografi penduduk Indonesia saat ini, misalnya, terbukti masuk ke dalam kategori heavy internet consumers selama pandemi Covid-19.

“Pandemi ini membawa perubahan yang signifikan, terutama dalam bidang advertising. Banyak pengiklan yang mulai mempertimbangkan beberapa hal fundamental terkait pergeseran strategi pemasaran mereka. Agar dapat tetap menjangkau audiens mereka, pergeseran tersebut, tentu saja, dilakukan ke arah yang lebih digital. Content creator marketing, misal, digital content marketing, atau online live streaming,” katanya.

4. Selalu Berfikir Kreatif di Tengah Hantaman Pandemi

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh industri periklanan adalah ketidakpastian alokasi anggaran dari suatu brand. Fenomena yang terjadi pada tahun ini bisa dibilang unik, di mana data statistik tentang spending habit tidak lagi relevan diaplikasikan. Artinya, bila biasanya perusahaan memiliki anggaran tahunan untuk promosi, pada tahun ini, pengalokasian anggaran tersebut harus dilaksanakan secara fleksibel, menyesuaikan keadaan/situasi terkini.

Buktinya, banyak brand yang memangkas biaya promosi mereka guna bertahan di tengah hantaman pandemi. “Pergeseran prioritas inilah yang menjadi tantangan nyata bagi industri periklanan untuk tetap bertahan sembari menciptakan berbagai macam kreasi campaign yang tepat guna. Pada intinya, hal ini dilakukan dalam rangka menjawab kebutuhan para pengiklan,” pungkasnya.

Exit mobile version