Kabupaten Malang, Blok-a.com – Isak tangis keluarga korban menghiasi peringatan setahun Tragedi Kanjuruhan, pada Minggu (1/10/2023).
Ribuan aksi massa melakukan long march, dimulai berangkat dari Stadion Gajayana Kota Malang menuju Stadion Kanjuruhan, aksi masa tiba sekitar pukul 15.10 WIB.
Berangkat dengan segala bentuk poster bertuliskan tuntutan keadilan, isak tangis keluarga korban dan supporter masih terus terdengar jelas di lapangan Stadion Kanjuruhan untuk memperingati setahun Tragedi Kanjuruhan.
Stadion Kanjuruhan pun menghitam. Puluhan poster dan banner terpajang bebas. Sejumlah pagar pembatasan pembangunan milik Waskita Karya terlihat dipenuhi dengan tulisan dengan cat semprot berwarna hitam.
Salah satu ibu korban, Rini Hanifah, mengungkapkan kekecewaannya di hadapan aksi massa. Umpatan rasa kekecewaan itu keluar atas lambannya proses hukum yang berjalan.
“Lapo anakku dipateni ? Salah opo anakku ? (Kenapa anak saya dibunuh ? Salah apa anakku ?),” kata Rini sembari manangis histeris, Minggu (1/10/2023).
Rasa amarahnya memuncak, ketika tepat satu tahun tragedi yang menewaskan putranya, Agus Riansyah, itu belum juga menemukan rasa keadilan. Bahkan, tubuh lemasnya sempat jatuh pingsan.
“Polisi biadab, anakku di pateni (anakku dibunuh),” tegasnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh ibu korban lainnya, Juariah. Ibu korban dari mendiang Shifwa Dinar Artamevia itu terlihat menenangan teman seperjuangannya.
“Kita harus semangat, kalau bukan kita siapa lagi yang akan melawan,” tegas Juariah kepada Rini.
Wanita asli malang ini datang berbondong-bondong dari Kota Malang menuju Stadion Kanjuruhan untuk berdoa bersama dengan membawa poster bergambarkan foto mendiang anak gadisnya.
“Kita harus kuat, jangan lemah, ayo terus lawan! Kita harus semangat,” ujarnya kepada Juariah.
Ratusan masa aksi pun melanjutkan aksinya untuk berdoa di pintu gate 13 Stadion Kanjuruhan. Taburan bunga mulai, lantunan doa hingga tangisan histeris masih nampak terjadi di pintu saksi bisu tewaskan 135 nyawa. (ptu/bob)



