Blitar, blok-a.com – Keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Blitar terancam setelah sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menghentikan operasional secara mendadak. Penghentian ini dipicu keterlambatan pencairan anggaran dari pemerintah.
Sejak 15 Desember 2025, SPPG Pakunden dan SPPG Tlumpu menghentikan layanan secara total. Sementara itu, SPPG Tanjungsari terpaksa mempersempit layanan dengan mengganti menu makan bergizi basah menjadi menu kering.
Kondisi tersebut menambah daftar persoalan dalam pelaksanaan program MBG yang selama ini menjadi tumpuan ratusan anak di Blitar untuk mendapatkan asupan gizi yang layak.
SPPG Tanjungsari memilih langkah darurat dengan menyalurkan makanan kering sekaligus untuk jatah tiga hari, demi memastikan anak-anak tetap menerima asupan gizi meski terbatas.
“Saya dapat menu kering dan mendapat informasi itu (penghentian sementara),” ungkap Ninda, wali murid penerima manfaat dari SPPG Tanjungsari.
Pihak pengelola SPPG Tanjungsari juga menyampaikan penjelasan kepada para orang tua terkait perubahan layanan tersebut.
“Dikarenakan Bantuan Pemerintah yang belum cair, kami terpaksa mengirimkan makanan kering,” bunyi pesan yang diterima oleh para orang tua.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, khususnya para orang tua siswa. Mereka berharap program MBG berjalan optimal.
“Saya mendapatkan menu kering dan hanya bisa berharap agar layanan gizi ini segera kembali seperti semula,” ungkap Ninda.
Sementara itu, Kepala SPPG Kota Blitar Sukorejo Pakunden yang dikelola Yayasan Bakti Insan Darmawan, Suprayitno Fitra, menyatakan penghentian operasional dilakukan hingga waktu yang belum ditentukan.
“SPPG Pakunden akan menghentikan sementara operasional hingga batas waktu yang belum dipastikan.”
Penghentian layanan juga terjadi di SPPG Tlumpu. Ketua Yayasan Wahana Bhakti Nusantara selaku pengelola, Mada Mahesa Negara, menyampaikan melalui Berita Acara Libur Sementara Program MBG bahwa langkah tersebut diambil karena dana operasional belum turun.
Dampak penghentian ini dirasakan langsung oleh masyarakat penerima manfaat. Para orang tua berharap ada kejelasan dan percepatan pencairan anggaran agar layanan gizi kembali normal.
“Kami berharap semoga MBG bisa segera normal kembali,” ujar Lorenza, salah satu orang tua siswa di Blitar.
Senada, Mey, wali murid SMAN 1 Blitar, menegaskan bahwa keberlanjutan Program MBG kini menjadi perhatian serius masyarakat.
“Dengan komitmen dan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah, diharapkan program ini bisa kembali memberikan manfaat yang besar bagi anak-anak di Blitar,” harapnya. (jar/lio)




