Sabun dan Lilin Olahan Puskesmas Dinoyo ini Bisa Turunkan Stunting di Kota Malang, Simak Penjelasannya

Puskesmas Dinoyo Lilin dan Sabun Turunkan Stunting Pemkot Malang Kota Malang
Produk Sabun dan Lilin Olahan Puskesmas Dinoyo (blok-A/Putu Ayu Pratama S)

Kota Malang, blok-A.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tak henti hentinya menghimbau seluruh eleman masyarakat untuk terus menjaga dan merawat lingkungan Kota Malang. Tak lupa Pemkot juga menghimbau masyarakat untuk dapat memanfaatkan kembali produk produk rumah tangga untuk mengurangi limbah di kota Malang.

Kini berbagai elemen pun membuktikan, Pemkot mampu mengolah berbagai limbah menjadi barang yang mempunyai nilai jual lebih. Salah satunya seperti Puskesmas Dinoyo Kota Malang, untuk mengurangi limbah cair rumah tangga. Puskesmas tersebut menyulap limbah minyak jelantah menjadi sabun dan lilin.

Berangkat dari tangan ajaib sang inovator, Sigit Wahyudi pegawai puskesmas Mulyorejo terbentuklah inovasi baru yakni mengolah limbah minyak Jelantah menjadi sabun dan lilin.

Selanjutnya, inovasi tersebut diturunkannya ke istri tercinta, Lilik Yuliati yang juga sebagai pegawai Puskesmas Dinoyo.

Saat Sigit Wahyudi pindah tugas ke Rumah Sakit Umum Kota Malang, Lilik lah yang melanjutkan inovasi tersebut. Dari ilmu yang dibekali sang suami, Lilik mengedukasikan ke masyarakat untuk mengolah limbah cair rumah tangga tersebut di jadikan barang yang bermanfaat bahkan bernilai jual lebih.

“Saya kebetulan dari Puskesmas Dinoyo juga sama memiliki kader binaan untuk mengedukasi masyarakat mengolah lilin dan sabun dari minyak jelantah,” tutur Lilik saat ditemui blok-A.com.

Tentunya dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat pentingnya kesadaran kepada lingkungan sekitar dan memanfaatkan limbah untuk dijadikan produk yang memiliki nilai jual lebih.

“Tujuan kita untuk mengedukasi masyarakat agar minyak jelantan tidak dibuang sembarangan dan pastinya juga dapat menghasilkan uang,” ungkapnya.

Menurut Lilik, mengolah limbah minyak jelantah ini memiliki sejuta manfaat untuk lingkungan. Salah satunya untuk mengurangi limbah cair rumah tangga serta mempercepat penurunan angka stunting.

Lebih lanjut, seperti yang telah disampaikan Wali Kota Malang, Sutiaji yang menjelaskan penurunan angka stunting dapat dilaksanakan dengan menerapkan STBM 5 Pilar, yakni :

  1. Tidak BAB sembarangan (Stop BABS)
  2. Mencuci tangan pakai sabun (CTPS)
  3. Mengelola air minum dan makanan rumah tangga yang aman.
  4. Pengamanan sampah rumah tangga dengan benar.
  5. Pengamanan limbah cair rumah tangga dengan aman.

Lilik pun menuturkan pengolahan limbah minyak jelantah masuk dalam pilar ke 4 dan 5 dalam STBM lima pilar untuk mendukung penurunan angka stunting di Kota Malang.

“Minyak jelantah ini kalau kita buang ke lingkungan atau ke sungai maka ada merusak kualitas air, yang medua jika di buang ke tanah maka tanah tersebut akan tandus karena sifatnya minyak,” jelasnya

“Oleh karena itu, ini masuk ke pilar ke empat dan kelima yaitu pengamanan sampah rumah tangga dengan benar dan pengaman limbah cair rumah tangga dengan aman,”imbunya.

Diawali dengan donasi minyak jelantah dari tahun 2019, limbah rumah tangga tersebut dikumpulkan dari masyarakat untuk di olah kembali menjadi sabun dan lilin. Lilik pun menjelaskan proses pembuatan sabun dan lilin yang terbuat dari minyak jelantah tersebut.

Proses pembuatannya cukup mudah. Caranya dengan menyiapkan minyak jelantah sebanyak dua liter dan arang sebanyak satu genggam tangan. Tujuannya adalah untuk proses penjernihan serta bahan pendukung lain seperti zat kimia NaOH dan pewarna makanan.

“Sabun ini campuran dari minyak jelantah yang sudah dijernihkan dengan arang, NaOH, dan air lalu di campurkan diberikan pewarna makanan setelah itu di cetak,” jelasnya.

“Dicetak dibiarkan saponifikasi selama 4 minggu, jadi proses saponifikasi itu proses pencampuran atau reaksi kimia antara air, minyak jelantah dan zat kimia NaOH sehingga nanti hasil akhirnya sabun,” imbuhnya.

Meskipun demikian, Lilik pun menegaskan hasil dari pengolahan sabun tersebut tidak disarankan untuk badan, namun hanya untuk mencuci tangan. Kembali lagi pada pilar ke 2, yakni mencuci tangan menggunakan sabun.

“Sabun ini tidak untuk badan ya, hanya untuk cuci tangan biasa. Karena ini kan dari minyak jelantah meskipun sudah di saring dan sudah di rendam namun kita belum melakukan penelitian lebih lanjut terkait kandungan kimianya,” tuturnya.

Tak hanya sabun, Lilik pun mengolah minyak jelantah menjadi lilin aroma. Pengolahan yang hampir sama menurutnya, yang menjadi pembeda yakni untuk produk lilin ia menggunakan bahan kimia stearic dan aroma.

“Untuk lilin kami menggunakan zat kimia stearic agar lebih murah, karena kita sifatnya recycle jadi kita cari yang murah agar tidak memberatkan masyarakat,” tuturnya

“Jika ingin menggunakan lilin aroma, tinggal menambahkan aroma bisa dikasih waktu nyala jadi di tetesin bisa ditambahkan saat pembuatannya,” tambahnya.

Satu produknya di jual mulai dari harga Rp. 7 ribu, dengan harga yang ramah di kantong pun ia mengaku telah mengantongi laba sebesar 50% dari hasil jualnya.

Di akhir Lilik pun menuturkan terkait pemasaran produk produk olahan limbah tersebut, ia mengaku menjualnya secara online di e-commerce.

“Sementara ini kami menjualnya di Shopee namanya wanna collection, lewat whatsapp, grup whatsapp juga,” pungkasnya. (ptu/bob)

Exit mobile version