Runtuhnya Jembatan Baltimore, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Kapal Dali yang Menabrak Jembatan di Baltimore Amerika Serikat (dok.viva)
Kapal Dali yang Menabrak Jembatan di Baltimore Amerika Serikat (dok.viva)

Blok-a.comJembatan Key Bridge di Baltimore, Maryland, Amerika serikat merupakan jembatan yang membentang sepanjang 2,6 kilometer. Menghubungkan Baltimore dengan kota-kota sekitarnya. 

Jembatan ini memiliki nilai historis dan simbolis serta menjadi ikon pemandangan kota yang menarik. Namun, pada Selasa (26/3/2024) lalu, jembatan ini runtuh  dan terbelah menjadi dua bagian. 

Sejarah Singkat Jembatan Baltimore 

Jembatan empat jalur di atas Sungai Patapsco ini dinamai menurut nama penulis lirik Star Spangled Banner, lagu kebangsaan Amerika Serikat. 

Jembatan ini merupakan bagian penting dari sistem jalan raya di sekitar Baltimore, sebuah kota industri di timur laut ibu kota AS, Washington, DC.

Menjadi jalur vital yang mengangkut lebih dari 12 juta kendaraan komersial dan penumpang pada tahun 2023. 

Pelabuhan Baltimore, berfungsi sebagai pusat ekonomi penting, menangani berbagai jenis kargo seperti mesin pertanian dan konstruksi gula, gipsum, batu bara, serta proses ekspor dan impor untuk sejumlah produsen mobil besar seperti Nissan, Toyota, General Motors, Volvo, Jaguar, hingga Land Rover. 

Penyebab Runtuhnya Jembatan Baltimore

Selasa (26/3/2024) pukul 01:27 waktu setempat, sebuah kapal kargo bernama Dali menabrak salah satu pilar jembatan yang menyebabkan mobil-mobil yang melintas jatuh ke Sungai Patapsco. Diketahui bahwa kapal kargo tersebut berasal dari Singapura.

Synergy Marine, perusahaan manajemen kapal melaporkan bahwa Dali yang memiliki panjang 948 kaki tersebut mengalami propulsi atau mati daya yang menyebabkan seluruh sistem lampu padam sesaat sebelum tabrakan terjadi. 

Melansir ABC News, awak kapal telah memberitahukan pejabat Maryland bahwa mereka kehilangan kendali atas kapal tersebut. 

Menteri Transportasi Maryland, Paul Wiedenfeld menjelaskan bahwa yang mengemudikan kapal saat kecelakaan terjadi adalah pilot lokal bukan kru kapal. Ia juga menyatakan bahwa pilot-pilot tersebut dilatih untuk menghindari kecelakaan seperti yang terjadi pada Selasa (26/3/2024). 

Kapal tersebut bergerak dengan kecepatan 8 knot, yang setara dengan 9 mph (15 kph).

Kapal kargo tersebut berangkat dari Pelabuhan Baltimore Amerika Serikat dengan tujuan Sri Lanka. 

Kemungkinan kapal kargo tersebut menabrak tiang beton utama yang merupakan bagian dari pondasi jembatan tersebut. 

Pihak berwenang mengatakan bahwa seluruh 22 awak kapal Dali beserta dua pilot telah ditemukan dan tidak ada laporan korban cedera. 

Konsekuensi Akibat Runtuhnya Jembatan Baltimore

Runtuhnya jembatan tersebut berpotensi menciptakan masalah logistik yang serius selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. 

Insiden ini diperkirakan akan mengganggu lalu lintas kapal di Pelabuhan Baltimore, yang merupakan pusat pelayaran utama, serta menyebabkan gangguan pada lalu lintas kargo dan komuter. 

Meskipun begitu, dampak kejadian ini kemungkinan tidak akan begitu besar pada perdagangan global karena Baltimore bukanlah pelabuhan utama bagi kapal kontainer. 

Dampak lain terjadi pada tarif kontainer dan biaya pengiriman diperkirakan akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan serangan di Laut Merah oleh kelompok Houthi dari Yaman. 

Namun, lumpuhnya Pelabuhan Baltimore dapat berdampak pada pergeseran lalu lintas kontainer dari Pantai Timur ke Pantai Barat, mengingat Kota Baltimore terletak di Pantai Timur. 

Proyek-proyek infrastruktur yang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan jembatan dan mengatasi dampaknya terhadap lalu lintas kapal dan pasokan di wilayah tersebut mendorong upaya pemulihan diharapkan dapat dilakukan dengan cepat guna meminimalkan dampak negatif secara ekonomi dan logistik

Tindakan Serta Respons Pasca Runtuhnya Jembatan Baltimore

Singapura mengirim tim investigasi untuk membantu menyelidiki runtuhnya jembatan di Baltimore. 

Langkah ini dilakukan Singapura untuk dapat membantu penyelidikan secara menyeluruh guna mengetahui faktor-faktor penyebab serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. 

Singapura juga menawarkan bantuan teknis dan pengalaman mereka di bidang keselamatan maritime dan infrastruktur kepada pihak berwenang di Amerika Serikat. 

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden mengumumkan bahwa pemerintah federal akan bertanggung jawab membangun kembali jembatan di Baltimore yang roboh. Keputusan ini diambil setelah jembatan tersebut mengalami kerusakan parah akibat tabrakan dengan kapal kontainer. 

Proyek pembangunan kembali jembatan tersebut menjadi salah satu dari beberapa proyek yang diprioritaskan dalam rencana infrastruktur pemerintah federal. Langkah ini diambil untuk memastikan keamanan dan kelancaran transportasi di wilayah tersebut. 

Pemerintah AS mengalokasikan dana sebesar US$60 juta (setara dengan Rp952,8 miliar) untuk biaya awal perbaikan jembatan yang runtuh. Total kerugian yang mungkin timbul dari pekerjaan perbaikan jembatan tersebut diperkirakan mencapai beberapa miliar dolar. 

Menteri Transportasi Amerika Serikat, Pete Buttegieg mencatat bahwa penangguhan pelabuhan di Baltimore akibat runtuhnya jembatan dapat mengakibatkan kerugian harian antara US$100 juta (setara dengan Rp1,5 triliun) hingga US$200 juta (setara dengan Rp3,1 triliun). 

Kabar Terkini di Lapangan 

Gubernur Maryland, Wes Moore telah mengumumkan keadaan darurat setelah jembatan di Baltimore runtuh.

Menteri Transportasi AS, Pete Buttigieg memberi instruksi kepada pengemudi di wilayah Baltimore untuk mengikuti panduan petugas setempat mengenai rute alternatif serta respons  terhadap kejadian tersebut. 

Otoritas Transportasi Maryland telah menginformasikan bahwa lalu lintas di Pelabuhan Baltimore ditangguhkan sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Lebih dari 40 kapal terdiri dari kapal kargo kecil hingga kapal pesiar masih berada di Pelabuhan Baltimore.

Administrasi Penerbangan Federal (FAA) telah melarang pesawat terbang di atas reruntuhan jembatan. 

Tim layanan darurat sedang melakukan pencarian menggunakan sonar, drone, serta teknologi inframerah untuk menemukan orang dan kendaraan yang mungkin jatuh ke Sungai Patapsco. 

Seorang Juru Bicara Layanan Darurat, Wallace menuturkan bahwa, 

“Sonar kami telah mendeteksi keberadaan kendaraan yang terendam air,” 

Menurut keterangan dari Coast Guard AS, Laksamana Muda Shannon Gilreath dari 8 orang korban, 6 orang dilaporkan tewas serta 2 orang berhasil dievakuasi dari dalam air. 

Salah satu korban yang ditemukan tidak mengalami cedera, sementara satu orang lainnya sempat menjalani perawatan di University of Maryland Medical Center sebelum pulang. 

Ketua Dewan Keamanan Transportasi Nasional AS menyatakan bahwa 8 orang korban tersebut adalah pekerja dari perusahaan Brawner Builders yang ditugaskan untuk mengisi lubang pada saat kejadian jembatan runtuh di Baltimore

Sementara itu, derek laut digunakan untuk membersihkan puing-puing di lokasi runtuhnya jembatan. Pekerjaan di bawah air sulit dilakukan karena kondisi cuaca yang buruk dan banyaknya puing. 

Penyelam penyelamat akan melanjutkan operasi begitu kondisi membaik. Rencananya pihak berwenang akan membongkar bagian utara jembatan untuk membuka jalur sementara bagi kapal. 

Gubernur Maryland, Wes Moore menyatakan bahwa pihaknya telah menggunakan crane Chesapeake 1000 dengan kapasitas angkat hingga seribu pound untuk membersihkan sisa-sisa jembatan. 

Saat ini para pekerja dilaporkan telah memotong bagian-bagian jembatan untuk persiapan pembuangan. Puing-puing jembatan akan diangkat dan diproses di lokasi pengiriman di Baltimore sebelum dibuang ke tempat pembuangan. (mg4/lio)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com