Banyuwangi, blok-a.com – Dua siswa SMAN 1 Genteng, IRA (16) dan EGM (16), terancam dikeluarkan dari sekolah usai mengikuti study tour ke Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta pada 2–8 Februari 2025.
Mereka, bersama tujuh siswa lainnya, diduga melanggar aturan saat berada di Bandung, yang berujung pada larangan mengikuti kegiatan belajar mengajar sejak 15 Februari 2025 hingga kini.
Study tour tersebut diketahui diikuti sekitar 300 siswa kelas XI dan 21 guru pendamping, dengan biaya sebesar Rp2,5 juta per orang.
Herman, ayah EGM, mengatakan, pihak sekolah menuduh anaknya bersama teman-teman yang lain mengunjungi pub, mengonsumsi minuman keras, serta memesan wanita panggilan melalui aplikasi MiChat saat berada di hotel.
“Informasi itu disampaikan langsung oleh Kepala Sekolah SMAN 1 Genteng, Minarto. Kami sangat menyayangkan insiden ini. Keselamatan siswa selama study tour seharusnya menjadi tanggung jawab sekolah dan guru pendamping. Kenapa mereka malah seperti cuci tangan?” kata Herman, Rabu (26/2/2025).
Herman juga menyesalkan keputusan sekolah yang melarang anaknya bersekolah tanpa memberikan solusi yang jelas.
“Kami membayar semua biaya sekolah tanpa keringanan, mulai dari uang pendaftaran, SPP, hingga buku LKS yang ditentukan sekolah. Tetapi Kasek dengan entengnya mengatakan bahwa anak-anak kami dilarang mengikuti belajar mengajar di SMAN 1, dan dianjurkan untuk pindah ke sekolah lain,” ungkap Herman.
Menurutnya, guru pendamping memiliki tanggung jawab dalam membimbing, mengarahkan, dan mengevaluasi siswa selama study tour.
Ia juga menegaskan bahwa guru harus menjadi teladan bagi siswa.
Jika tidak ada penyelesaian dari pihak sekolah, Herman berencana melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan DPRD Banyuwangi.
“Apabila pihak sekolah tidak mempunyai itikad baik, melalui pengacara, kami akan mengadukan permasalahan tersebut kepada Kepala Dinas Pendidikan tingkat Provinsi serta kepada DPRD Banyuwangi,” tegas Herman.
Blok-a.com telah mencoba menghubungi Minarto, Kepala SMAN 1 Genteng, untuk meminta klarifikasi terkait kasus ini.
Namun, hingga berita ini ditayangkan, yang bersangkutan belum memberikan respons, meskipun panggilan telepon berdering dan pesan WhatsApp telah terbaca.(kur/lio)









