Gresik, blok-a.com – Sampah daun kering dan sisa dapur yang biasanya dianggap tak bernilai, di tangan Achmad Taufik (37), warga Desa Wringinanom, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik justru menjadi ladang rezeki.
Berbekal pengetahuan pengolahan sampah yang ia dapatkan selama bekerja di TPS3R, Taufik kini sukses mengolah limbah organik menjadi pupuk kompos bernilai jual tinggi.
Setiap harinya, Taufik terlihat sabar mengaduk tumpukan daun kering dan sisa makanan yang telah difermentasi di halaman rumahnya. Alih-alih jijik, ia justru melihat sampah organik sebagai peluang.
“Kalau orang lain pusing sama sampah, saya justru seneng lihat daun kering dan kulit pisang. Itu bukan sampah, itu duit,” ungkapnya.
Usaha rumahan yang dimulainya sejak meninggalkan pekerjaannya di TPS3R lima tahun lalu tersebut mulai berkembang pesat. Dengan memanfaatkan halaman rumah sebagai lokasi pengomposan, Taufik mampu mengolah hingga dua ton sampah organik setiap produksi.
Hasilnya, kompos berwarna gelap dan bertekstur halus bisa dipanen setiap dua hingga tiga minggu sekali.
“Prosesnya sederhana tapi harus telaten. Kalau benar, hasilnya berkualitas dan banyak yang cari,” tuturnya.
Saat ini, Taufik memilih memproduksinya dalam kemasan besar seberat 20 kilogram. Sebab pembeli lebih menyukai paket besar karena ekonomis.
“Dulu sempat jual ukuran kecil tapi yang banyak laku malah yang besar. Jadi sekarang fokus di 20 kilo,” jelasnya.
Pembeli kompos racikan Taufik tak hanya datang dari sekitar lingkungannya. Pembelinya ada PKK, sekolah adiwiyata, dan para penghobi tanam-tanaman dari berbagai kecamatan di Wringinanom sendiri, ada pula Benjeng, Balongpanggang, sampai Gresik kota.
“Lumayan buat tambahan. Sebulannya antara Rp 800 ribu hingga Rp 1,3 juta,” ungkapnya.
Ia menjual sebagian langsung, sebagian lagi lewat mitra yang membantu distribusi. Tak ada logo megah, tak ada influencer endorsement, hanya kualitas dan kepercayaan pelanggan.
Baginya, tumpukan karung sak ini bukan sekadar pupuk melainkan hasil kerja keras, ketekunan, dan kepedulian pada bumi. Dari sampah organik, ia menanam harapan baru.
“Setiap karung yang terjual bukan cuma menambah uang di kantong, tapi juga mengurangi beban TPA. Kita cuma perlu melakukan aksi nyata,” pungkasnya. (Ivn)




