Petani di Malang Memilih Tidak Memanfaatkan Pupuk Bersubsidi Karena Gaptek

Arif sedang bertani di lahannya di Karangploso, Kabupaten Malang (blok-A/Putu Ayu)

Kabupaten Malang, blok-A.com – Petani di Kabupaten Malang masih mengeluhkan pupuk bersubsidi susah didapatkan, Sabtu (17/09/2022).

Hingga kini petani masih mengeluh terkait pupuk bersubsidi, pasalnya pemerintah mulai menetapkan beberapa persyaratan administrasi untuk mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut. Salah satunya adalah penyaluran secara digital.

Beberapa petani gagap teknologi (Gaptek) mengeluh banyak persyaratan yang diminta oleh pemerintah, petani gaptek merasa nasibnya terombang ambing. Seperti petani asal Kepuharjo Krangploso Kabupaten Malang, Arif (54), ia mengaku kesusahan saat melakukan pengajuan pupuk subsidi.

“Pengajuane ribet, orang tani di susuh ngisi pendataan yo gak bisa mbak tani aja pendidikane sampai berapa gak bisa laptopan,” papar Arif saat ditemui blok-A.com.

Ia menceritakan banyaknya peraturan yang ada untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, mulai dari petani yang hanya memiliki tanah maksimal dua hektar dan harus sesuai dengan petakan tanah serta sesuai dengan pajak SPTnya.

Arif juga mengaku pernah mencoba berbagai pupuk salah satunya pupuk organik, kompos dan hingga pernah meracik pupuk sendiri, menurutnya hasilnya tidak seperti pupuk subsidi.

Ia pasrah jika tahun ini tidak dapat pupuk subsidi, jika memang harus membeli pupuk non subsidi karena keterbatasan pengetahuannya. Menurut Arif perut laparnya lebih penting dari pada pupuk subsidi.

“Kami pasrah saja mbak kalau gak dapet subsidi, yang penting ada pupuk petani masih bisa makan meskipun penghasilannya pasti mepet bahkan gak ada hasil,” tambahnya.

Arif tidak mempekerjakan orang lain untuk menggarap sawahnya, ia lebih memilih mengerjakan sawahnya seorang diri karena takut tidak mencukupi kebutuhannya.

“Sekarang buruh tani mahal mbak harganya, gak cukup kalau di buruhkan jadi ya gini di garap sendiri aja biar uangnya bisa muter,” jelasnya.

Arif kembali menegaskan petani sepertinya sangat membutuhkan pupuk subsidi, pasalnya harga pupuk non subsidi bisa hampir 3 kali lipat lebih mahal harganya.

“Kalau gak subsidi pupuk urea hampir 450 ribu, itu 3x harga pupuk subsidi mbak. Itu alasan kami terus mencari cara gimana dapat pupuk subsidi mbak biar tetep bisa makan bisa garap sawah terus,” jelasnya.

Arif berharap pemerintah segera mempermudah petani, nasib rakyat kecil seperti petani ini segera di pikirkan kembali. Diakhir ia juga mengatakan mungkin petani akan protes kalau pendataannya masih dipersulit seperti ini.

“Segera di pikirkan lah mbak nasib petani ini, kasian kalau gak ada pupuk subsidi bakal kayak apa nasibnya gak bakal cukup, ini nanti kalau pendataannya masih gini terus ya mungkin petani banyak yang protes mbak,”pungkasnya. (mg2/bob)

Exit mobile version