BLOK-A – Josh Luber dikabarkan keluar dari StockX, perusahaan yang ia dirikan pada 2015 lalu. Hal ini berdasar pada unggahan Luber kemarin (11/9). Ia mengunggah logo StockX berwarna hitam abu-abu. Keterangan (caption) pun sangat singkat, hanya “thank you” atau terima kasih.
Rumor ini diperkuat dengan laporan dari media Footwear News yang mengirimkan email wawancara kepada Luber sesaat setelah unggahan tersebut mengudara. Pria 42 tahun itu mengiyakan. Selang beberapa jam, StockX membuat pernyataan resmi terkait hal ini melalui situsnya.
Luber memang sudah turun dari jabatan CEO sejak Agustus 2019. Namun, ia masih berposisi sebagai penasehat dan jajaran penting sebelum memutuskan untuk pergi. Posisi Luber selaku CEO sudah digantikan oleh Scott Cutler sejak Agustus 2019. Ia sebelumnya pernah bekerja untuk sejumlah situs jual-beli eBay dan StubHub.
“StockX didirikan lebih dari empat tahun lalu oleh sekelompok orang yang berkomitmen untuk berkecimpung di bidang e-ccommerce serta memuaskan hasrat berbelanja konsumen. Hari ini (11/9), StockX mengumumkan bahwa Josh Luber, satu dari sekelompok pendiri, memutuskan untuk hengkang untuk mengejar ambisinya di luar perusahaan,” tulis StockX dalam pernyataan resmi.
Luber punya ambisi untuk membuat inovasi dari segi bisnis penjualan daring. Ia mencoba menghadirkan situs yang mengakomodasi penjualan sneaker serta barang-barang lain yang dilakukan secara perseorangan.
Setahun ke belakang, Luber dan Cutler telah bekerja untuk merumuskan sistem transaksi tanpa melibatkan uang tunai agar lebih cepat, aman, dan mudah didata.
StockX kini sudah menjadi salah satu situs untuk mengecek perkembangan harga sepatu di pasar sekunder. Terdapat pula data fluktuasi harga sepatu-sepatu yang kebanyakan tidak diproduksi lagi. Sejauh ini, StockX sudah mempekerjakan 800-an orang pegawai.
Belum jelas akan kemana Josh Luber setelah ini. Kendati demikian, ia meninggalkan StockX dalam keadaan yang aman dari segi finansial. Valuasinya sudah mencapai AS$1 Miliar, sekitar 15 triliun Rupiah, pada 2019. Pemasukannya ditambah dengan investasi sebesar AS$110 juta atau sekira 1,6 triliun Rupiah dari sejumlah investor seperti DST Global, General Atlantic dan GGV Capital.




