Musim Kemarau Tiba, Harga Apel di Kota Batu Mulai Merangkak Naik

Apel Batu
Foto : Istimewa

KOTA BATU – Wabah mata ayam yang sempat melanda petani apel di Kota Batu kini mulai mereda. Bahkan harga apel yang sebelumnya anjlok juga mulai mengalami kenaikan sejak awal bulan April 2021 sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per kilonya.

Salah satu petani asal Kecamatan Bumiaji, Usman Hudi mengatakan, sejak memasuki musim kemarau hasil pertanian apel mulai membaik. Sebab wabah mata ayam mulai berkurang dengan seiring berjalannya waktu. Alhasil harga apel pun mulai merangkak naik.

“Apel yang dihasilkan bagus, jadi sangat berpengaruh pada naiknya harga apel,” ujarnya, Jumat ( 30/4).

Usman mengaku sejak memasuki musim kemarau atau curah hujan yang tak terlalu tinggi sangat menguntungkan dari hasil panennya. Banyak apel yang hssilnya lebih bagus dibandingkan sebelum musim kemarau.

“Kemungkinan harga apel ini akan kembali normal sekitar lima bulan lagi,” imbuhnya.

Selain itu, Usman juga tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang untuk melakukan perawatan lebih. “Kalau pada musim penghujan, kualitas apel yang dihasilkan sangat jelek. Karena muncul jamur dan mata ayam. Hal itu membuat pendapatan kami berkurang, ditambah lagi harus nambah biaya saat musim penghujan,” jelasnya.

Usman pun mengaku dibandingkan beberapa tahun lalu, produk yang dihasilkan memang sangat menurun. Dikarenakan sebagian ladangnya berkurang akibat dari wabah mata ayam.

“Kalau saat ini, memang hasil panen berkurang. Dulu, dalam sehari kita butuh satu truk untuk mengangkut hasil panen apel. Kini butuh waktu lima hari baru bisa terisi penuh satu truk hasil panen apel,” ujarnya.

Di sisi lain juga, para petani mengalami kendala terkait persaingan pemasaran apel impor. Kepala Dinas Pertanian Batu, Sugeng Pramono mengatakan, kerugian petani apel di musim penghujan bisa diganti saat musim kemarau.

“Petani apel di Kota Batu ada sekitar 2500 petani. Dan tidak semua petani menanam Apel Manalagi yang menjadi buah paling sering diserang mata ayam. Busuk buah yang terjadi di musim penghujan adalah hal yang biasa. Solusinya adalah penyemprotan, jika memungkinkan dilakukan secara rutin,” ujarnya.

Diketahui, dari total 2500 petani apel, yang terdampak mata ayam sekitar 20 hingga 25 persen saja. Kemudian, produksi apel di Kota Batu terus menurun. Saat ini, tersisa sekitar 1100 Ha lahan pertanian apel di Kota Batu. Data dari Dinas Pertanian Batu, pada periode 2018 ke 2019 ada 600 Ha lahan pertanian apel yang beralih fungsi.

Exit mobile version