BLOK-A – Perempuan itu berdiri menghadap jendela yang menampakkan awan kelabu yang menggelayuti langit yang semula masih berwarna biru cerah. Sesekali, ia menyesap teh dari cangkir yang sedari tadi ia tangkup dengan kedua tangannya.
Matanya memandang kosong, nanar, menyiratkan kehampaan dan kehilangan yang luar biasa besar. Ia menghela napas berat, berharap bisa sedikit mengeluarkan beban yang dirasakannya.
Lima tahun sudah berlalu. Rasanya seperti belum cukup waktu untuk melupakan segalanya. Luka di hatinya masih menganga, mencelos hingga mati rasa. Sampai ia berada di titik sudah tak bisa lagi merasa.
Otak dan hatinya sedang bertempur hebat. Mencoba berpikir lebih rasional dan mengalahkan emosionalnya.
Sejuta pertanyaan menyeruak di dalam kepalanya. Memikirkan seseorang yang masih menghantui benak dan mimpinya. Memikirkan penyesalan yang ia rasakan atas kata-kata yang belum sempat terucap kala itu. Sejuta perasaan bersalah menyelimuti hatinya.
Ia ingin meluapkan kemarahannya kepada Tuhan. Kepada orang, atau siapa pun yang bisa disalahkan. Berharap bisa sedikit meredakan rasa sakit itu.
“Berapa lama lagi kamu bisa bertahan dengan rasa itu?”
“Berapa banyak malam lagi yang harus kamu lalui dengan mimpi-mimpi buruk itu?”
“Orang itu mungkin sudah melupakanmu, bagaimana kamu masih bisa menyimpan perasaan itu sekian lama?”
Pertanyaan-pertanyaan itu hingga kini masih berkecamuk dalam otaknya. Percayalah, sekuat apapun ia berusaha, ia masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sedang membayanginya.
Pikirannya pun memutar kembali kenangan lima tahun lalu, dengan seseorang yang masih menyimpan hatinya.
***
“Bukannya kamu sudah tahu kondisinya? Apa yang mau diharapkan?” kataku.
“Maaf. Lupakan. Aku paham ini gila. Tapi ini bukanlah sesuatu yang bisa aku kendalikan,” balasnya.
Perempuan itu tak banyak berkata-kata. Sedari awal ia kenal dengan laki-laki itu, perempuan itu tak pernah berencana sama sekali untuk masuk ke dunianya. Ke dalam hidupnya. Namun, skenario Tuhan membuat mereka masuk ke dalam sebuah zona—zona yang mereka pahami serba tidak pasti. Sangat tidak memungkinkan.
Sialnya, hati perempuan itu terlanjur mengembangkan perasaannya terlalu jauh. Seiring waktu, bersamaan dengan laki-laki tersebut yang telah lebih dulu menyimpannya.
Perempuan itu tahu betul, menjalani hubungan ini bak berjalan di tempat. Tak akan sampai ke tujuan yang diinginkan. Namun, harapan utopis itu terus terpupuk di hati keduanya, seolah tak rela memisahkan mereka.
Ia tahu harus melepas lelaki itu, sebelum semuanya terlanjur jauh. Tapi, sesal hanyalah sesal. Ia tak bisa menghentikan dirinya sendiri, pun lelaki itu. Rasa ingin saling memiliki itu semakin tumbuh besar.
Perkenalan yang sudah terjadi sejak 10 bulan lalu, sementara mereka butuh lima bulan untuk mengetahui bahwa keduanya tak bisa mengendalikan hati masing-masing bukanlah waktu yang singkat.
Namun, semuanya harus diakhiri. Perpisahan harus (terpaksa) terjadi. Siapa yang siap dengan semua itu?
***
Mungkin memang benar katamu. Tak ada yang salah dengan perkenalan dan pertemuan kita berdua. Mungkin benar ucapmu, waktu dan kondisi yang berbeda lah, yang membuat semuanya terasa salah.
Kita bagai bumi dan langit, yang seolah tampak dekat, namun tak bisa saling menggapai. Kecuali dengan satu syarat: berkorban sesuatu, yang kita tahu betul risikonya. Bukankah semua orang paham, kalau kita ingin mendapatkan sesuatu, kita harus berjuang dan berkorban banyak hal?
Sebenarnya masih banyak kata yang belum kuucapkan kepadamu. Masih ada setumpuk kerinduan yang belum aku lepas bersamamu. Mungkin memang benar katamu, bahwa sudah saatnya kita menjalani kehidupan yang sudah ada saat ini, di jalan masing-masing.
Aku pun paham dengan posisiku. Bukan porsiku, untuk menuntut banyak hal kepada dirimu.
Mungkin memang benar ujarmu, aku akan menemukan seseorang yang lebih baik. Namun semua itu tak akan mudah seperti yang kau katakan, setelah segala perkenalan, pertemuan, dan perasaan yang melibatkan kita berdua, sejauh ini.
Ya, semuanya memang terasa tidak adil bagiku. Setelah semua kenangan yang kita lalui.
Kita sama-sama tak ingin pergi ke jalan masing-masing, tapi waktu yang memaksa kita harus melakukannya. Sial, mengapa di dunia ini harus ada yang namanya perpisahan?
Mungkin, kita menemukan ‘selamanya’ di waktu yang salah.
Mungkin, suatu hari, waktu yang akan mempertemukan kita untuk kembali, bersama.
Mungkin. Suatu hari, yang aku—bahkan kamu, tidak tahu pasti kapan.
Yang aku tahu hanyalah, kenyataan bahwa hatiku, dan mungkin hatimu, masih saling menunggu.




