Melihat Teatrikal Kisah Sengsara Yesus Diperankan Remaja Gereja di Kota MAlang

Caption : Gereja Katolik St, Yohanes: teatrikal kematian Tuhan Yesus Kristus (Blok-a.com/mike)
Caption : Gereja Katolik St, Yohanes: teatrikal kematian Tuhan Yesus Kristus (Blok-a.com/mike)

Kota Malang, blok-a.com– Terjadi sebuah gambaran mengenai toleransi beragama di mana umat Muslim sedang fokus menjalankan ibadah puasa sementara itu, jemaat Kristiani merayakan perayaan Paskah dengan penuh kekhidmatan.

Salah satu contohnya terlihat pada Visualisasi Kisah Sengsara Yesus yang disajikan dalam bentuk teatrikal di Gereja Katolik St. Yohanes Pemandi Janti, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Dalam teatrikal tersebut, sekitar 75 remaja gereja turut berpartisipasi dengan sebagian dari mereka memerankan adegan via dolorosa atau jalan salib, sementara sebagian lainnya menyertai dengan nyanyian rohani.

Inti dari teatrikal ini adalah menggambarkan penyiksaan yang dialami Yesus sebagai pengorbanan-Nya untuk menebus dosa manusia dan menyelamatkan umat-Nya.

Apresiasi terhadap visualisasi tersebut datang dari sekitar 450 jemaat yang memenuhi gereja.

“Tujuan dari penyajian teatrikal tersebut adalah untuk mengajak umat kembali memahami kisah kebangkitan Yesus,” kata Whana Rian Mukti Cahyo Ketua Panitia (8/4) Malam.

Selain itu, tujuan lain dari penyelenggaraan teatrikal ini adalah untuk memberikan wadah bagi remaja untuk mengekspresikan diri.

Meskipun pandemi telah mereda, pihak gereja tetap menerapkan protokol kesehatan dan mengatur kehadiran umat saat ibadah agar tetap aman.

“Selain teatrikal, terdapat beberapa kegiatan lain yang merupakan bagian dari rangkaian perayaan Paskah,” ujarnya.

Rangkaian dimulai sejak 40 hari yang lalu pada perayaan Rabu Abu, dilanjutkan dengan Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, dan Hari Raya Paskah.

“Teatrikal yang disajikan pada hari Jumat kemarin merupakan bagian dari perayaan Jumat Agung,” kata dia.

Setelah penyajian teatrikal, pada sore harinya, jemaat melaksanakan ibadah.

Selain itu, mereka juga melaksanakan ritual pembasuhan kaki.

“Hal ini bertujuan untuk menunjukkan semangat pelayanan kepada sesama dalam masyarakat,” jelasnya.

Terpisah Jezz salah seorang jemaat mengatakan bahwa penampilan teatrikal yang dilakukan tersebut pertama kali setelah tiga tahun lamanya dilanda covid-19.

Lalu dari penataan ruangan serta musik juga sungguh membawa suasana jemaat yang melihatnya.

“Meskipun sudah pasca covid jemaat masih menjaga protokol kesehatan,” kata dia.

Dari jumlah jemaat yang hadir diperkirakan sekitar 100-an.

“Penampilan teatrikal ini juga memang perlu dibuat setiap kali memperingati kematian tuhan yesus dikarenakan untuk mengingatkan manusia bahwa dosa manusia ditebus oleh darahnya,” tandasnya. (mg1/bob)