Melihat Pertumbuhan Urban Farming di Kota Malang, Upaya Mandiri Pangan di Tengah Krisis Lahan

Melihat Keberhasilan Urban Farming di Lahan Sempit Samaan Kota Malang
Melihat Keberhasilan Urban Farming di Lahan Sempit Samaan Kota Malang

Kota Malang, blok-a.com – Kota Malang semakin serius membumikan konsep urban farming sebagai jawaban atas menyusutnya lahan pertanian di kawasan perkotaan. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) menggencarkan berbagai program pelatihan, termasuk teknik hidroponik, sebagai tindak lanjut dari musyawarah pembangunan kelurahan (musrenbang).

Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, menyebut bahwa urban farming tak hanya soal bercocok tanam, tapi juga menyatukan budidaya tanaman, peternakan, dan perikanan dalam satu konsep terintegrasi. Semua itu dilakukan di pekarangan warga atau ruang terbuka, demi memperkuat ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga hingga lingkungan RT dan RW.

“Urban farming tidak hanya bertani, tapi juga mencakup budidaya ikan dan ternak dalam skala kecil. Semua itu dilakukan di lahan pekarangan warga, untuk memperkuat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, RT, dan RW,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat terhadap program ini terus tumbuh. Jika pada 2024 tercatat 112 kelompok aktif, tahun ini jumlahnya naik menjadi 115 kelompok. Tiap kelompok didampingi secara intensif oleh Dispangtan lintas bidang mulai dari perikanan, peternakan, hingga ketahanan pangan. Komunikasi pun dimaksimalkan melalui grup WhatsApp agar monitoring dan evaluasi berjalan efektif.

“Setiap kelompok urban farming kami dampingi lewat pembinaan lintas bidang, baik ketahanan pangan, perikanan, maupun peternakan. Kami juga membentuk grup WhatsApp untuk masing-masing kelompok, agar komunikasi, monitoring, dan evaluasi bisa berjalan efektif,” terang Slamet.

Pemerintah juga tidak berhenti di tahap budidaya. Dispangtan kini menjembatani pemasaran hasil pertanian urban ke jaringan pelaku usaha, seperti Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Ke depan, produk lokal dari pekarangan warga ini ditargetkan masuk ke fresh market, toko sayur modern, bahkan pasar khusus.

Dalam pelatihan urban farming, warga diperkenalkan pada sistem hidroponik—metode tanam tanpa tanah yang menggunakan media air. Selain itu, mereka juga dikenalkan dengan bahan tanam alternatif seperti mulsa, pakis, dan sekam.

“Kami ingin agar warga terbiasa dengan metode tanam tanpa lahan luas. Hidroponik, pakis, dan sekam adalah solusi tepat untuk rumah di perkotaan,” kata Slamet.

Kelompok-kelompok urban farming tersebar di berbagai kelurahan seperti Kebonsari, Arjosari, Tlogomas, hingga Lesanpuro. Komoditas yang dibudidayakan pun beragam, dari sayur hidroponik, ayam petelur, hingga ikan konsumsi. Semua dikelola dalam skala pekarangan, dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan pangan warga di lingkungannya.

“Produk dari masing-masing kelompok minimal bisa memenuhi kebutuhan pangan warga di lingkungan mereka sendiri. Kami dorong agar urban farming menjadi gerakan mandiri masyarakat,” pungkasnya. (yog)

Exit mobile version