Melihat Perkembangan Kampung Kayutangan Heritage dari Warga Asli

Caption: Ibu Sri (69) saat menunjukan souvenir khas Kampung Kayutangan Heritage, Kamis (16/2/2023)
Caption: Ibu Sri (69) saat menunjukan souvenir khas Kampung Kayutangan Heritage, Kamis (16/2/2023) (blok-a/Helen)

Kota Malang, blok-a.com – Kemunculan Kampung Kayutangan Heritage di Kota Malang memberikan banyak dampak kepada warga sekitar. Salah satu dampak positifnya adalah peningkatan ekonomi.

Hal ini dirasakan oleh dua warga asli Kampung Kayutangan Heritage yang Bernama Sri (69) dan Astufah (58). Mereka berdua berjualan di depan gapura kampung di RW IX.

Sri mengatakan bahwa dirinya sudah tinggal di kampung ini sejak lahir. Waktu itu sekitar tahun 1954. Pada tahun tersebut dirinya mengaku masih belum banyak rumah di kampung tersebut.

“Iya dulu saya tinggal di sini mulai tahun 1954, dari lahir. Dulu di sini masih belum banyak rumah,” ujar Sri pada wartawan blok-a.com, Kamis (16/2/2023).

Ia mengaku telah berjualan sejak lama. Saat ini karena kampungnya dibuat kampung tematik, maka ia dan temannya Astufah berjaga di bagian pintu masuk kampung untuk pembayaran tiket dan pengambilan souvenir.

“Sejak ada jadi Kampung Kayutangan Heritage ini saya disarankan oleh Pokdarwis untuk menjaga pintu masuk,” jelasnya.

Setiap pengunjung dikenai tarif sebesar Rp 5.000 untuk memasuki Kampung Kayutangan Heritage. Dirinya mengaku mendapat upah sebesar Rp 1.000 untuk setiap pengunjung yang membayar. Sedangkan sisanya untuk souvenir dan biaya perawatan kampung.

kampung heritage malang
Wisata Kampung Heritage Kayutangan Kota Malang (Blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)

“Kalau upah dari Pokdarwis itu kita dapat Rp 1.000 setiap pengunjung yang bayar tiket masuk, terus nanti Rp 2.500 nya untuk souvenir foto, dan Rp 1.500 nya untuk biaya perawatan kampung,” ujar Sri.

Menurut Astufah (58), saat ini kampungnya sangat ramai. Mulai dari pembangunan infrastruktur dan pengunjung yang mendatangi kampungnya.

“Ramai sekali sekarang,” jelas Astufah pada wartawan blok-a.com.

Dirinya mengaku setelah kampungnya ramai pengunjung dalam satu hari penjualannya bisa mencapai Rp 500 ribu. Hal itu hanya dihitung dari penjualannya di warung, jika ditambahkan dengan penjualan tiket, maka bisa lebih dari itu.

“Pernah itu saya paling banyak dapat sampe Rp 500 ribu, belum sama tiketnya. Ya alhamdulillah perekonomian warga sini jadi meningkat,” ucap Astufah.

Pembangunan infrastruktur seperti jalanan di kampung, lampu-lampu taman, juga menurut Astufah memperindah kampungnya yang dulu sepi.

“Alhamdulillah sudah dapat bantuan seperti jalanan yang di paving warna warni, terus gambar di dinding, lampu dan banyak itu. Kampungnya jadi ramai, bagus, enak dilihat,” pungkasnya. (len/bob)

Exit mobile version