MALANG – Dua hari ke belakang, curah hujan di Kota Malang mengalami peningkatan. Yakni dengan intensitas panjang dan deras beberapa hari ini.
Ini tak terlepas dari Fenomena La Nina yang terjadi di Samudera Pasifik yang diprediksi akan mengakibatkan anomali cuaca berupa peningkatan curah hujan yang terjadi di Tanah Air. Tak hanya di Malang, fenomena ini juga berdampak beberapa daerah di Indonesia saat ini.
La Nina sendiri dapat berdampak pada potensi bahaya hidrometeorologi. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BKMG), perkiraan dampak La Nina terjadi pada akhir 2020 hingga awal 2021.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun sudah merekomendasikan kesiapsiagaan tidak hanya pada tingkat provinsi tetapi hingga tingkat Kecamatan, Kelurahan atau Desa dan bahkan keluarga.
“Ya memang untuk tahun ini yaitu 2020 diprediksi oleh BMKG di Indonesia akan terjadi La Nina, dimana akan terjadi curah hujan diatas normal,” urai Kepala BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Klas III Karangkates, Musripan, Senin (12/10).
La Nina secara umum dapat dikatakan sebagai fenomena iklim yang berlawanan dengan El Nino atau fenomena iklim pemanasan atau kemarau panjang.
Dampak dari makin tingginya curah hujan ini tentu akan berimbas kepada aktivitas masyarakat di luar. “Makanya BMKG ikut mengingatkan masyarakat harus selalu waspada terhadap datangnya musim hujan, karena bencana alam bisa terjadi kapanpun,” tambah Musripan.
Ada tiga potensi bencana yang mengancam. “Pertama, waspada banjir apabila wilayahnya potensi banjir, kedua waspadai longsor apabila hujan dengan intensitas tinggi dan lama untuk wilayah dataran tinggi, ketiga waspadai angin kencang dan petir,” ujar pria murah senyum itu.
Menurut Musripan, tanda-tanda tersebut sering disertai juga dengan awan yang cukup gelap atau awan cumulonimbus. “Perlu waspada juga kalau siang atau sore temperatur agak hangat, maka itu tanda-tanda akan hujan dan disertai angin,” tandasnya.




