Kontraktor Proyek Puskesmas Panekan Magetan Akui APD Tak Cukup untuk Pekerja

Tampak dua pekerja tanpa mengenakan APD lengkap berada diatas gedung proyek Puskesmas Panekan.
Tampak dua pekerja tanpa mengenakan APD lengkap berada diatas gedung proyek Puskesmas Panekan.

Magetan, blok-a.com – Pembangunan Puskesmas Panekan di Kabupaten Magetan senilai Rp13,84 miliar menjadi sorotan warga setempat karena diduga mengabaikan standar keselamatan kerja. Sejumlah pekerja terlihat beraktivitas tanpa mengenakan alat pelindung diri (APD) di area proyek.

Pantauan di lapangan menunjukkan pekerja berada di ketinggian dan area material berat tanpa helm, rompi, maupun sepatu kerja standar. Kondisi ini dinilai membahayakan dan berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja.

“Kalau ada kecelakaan kerja, yang rugi pekerja sendiri. Kontraktor seharusnya menyediakan APD sesuai aturan,” kata seorang warga Panekan.

Proyek pembangunan ini dikerjakan oleh CV Sinar Kencana dengan konsultan pengawas PT Pilarempay Consultan. Pekerjaan berlangsung selama 150 hari kalender, mulai 7 Juli hingga 5 Desember 2025.

Menanggapi temuan tersebut, perwakilan kontraktor pelaksana, Bayu, mengakui jumlah APD yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan.

“APD di RAB hanya untuk 70 orang, sementara pekerja ada sekitar 150. Akan kami tindak lanjuti dengan konsultan,” ujarnya, Senin (8/9/2025).

Pengakuan tersebut mempertegas dugaan kelalaian dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Sebagian besar pekerja terpaksa bekerja tanpa perlindungan yang seharusnya menjadi hak mereka.

Minimnya penerapan K3 dalam proyek pemerintah ini berpotensi melanggar UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, hingga Perpres No. 12 Tahun 2021 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

Jika terbukti lalai, kontraktor bisa dikenai sanksi mulai dari pidana, penghentian pekerjaan, pemutusan kontrak, hingga masuk daftar hitam penyedia proyek.

Selain kontraktor, konsultan pengawas dan Dinas Kesehatan Magetan sebagai pemilik proyek juga turut bertanggung jawab. Pembangunan fasilitas kesehatan ini menjadi ironis lantaran justru diduga mengabaikan keselamatan para pekerjanya.(nan/lio)

Exit mobile version