Kisah Serda Satriya Kumbara eks Marinir Indonesia Jadi Tentara Rusia

Serda Satria Kumbara (TikTok/@zstorm689)
Serda Satria Kumbara (TikTok/@zstorm689)

Blok-a.com – Nama Satriya Arta Kumbara tiba-tiba ramai diperbincangkan setelah foto dirinya memakai seragam tentara Rusia tersebar di media sosial. Pria yang dulunya anggota Korps Marinir TNI AL ini diduga ikut serta dalam perang Rusia-Ukraina. Namun, keputusannya menimbulkan berbagai reaksi dan pertanyaan, apa alasan di balik pilihan mantan prajurit TNI ini untuk bergabung dengan militer negara asing?

Sebelumnya, Satriya bertugas di Inspektorat Korps Marinir TNI AL dengan pangkat terakhir Sersan Dua. Namun pada 2023, ia resmi diberhentikan secara tidak hormat karena meninggalkan tugas tanpa izin sejak 13 Juni 2022.

Pemecatannya diputuskan melalui sidang tanpa kehadirannya di Pengadilan Militer II-08 Jakarta pada 6 April 2023. Selain dipecat, ia juga dijatuhi hukuman 1 tahun penjara, meski hukuman ini tidak bisa dilaksanakan karena keberadaannya tidak diketahui saat itu.

Belum lama ini, akun TikTok @zstorm689 mengunggah foto Satriya dengan seragam tentara Rusia, mengklaim bahwa ia sekarang menjadi bagian dari pasukan Rusia di Ukraina. Dalam unggahannya, Satriya menegaskan bahwa dirinya bukan tentara bayaran, melainkan anggota resmi Angkatan Darat Rusia.

Pemerintah Indonesia merespons hal ini dengan serius. Menteri Hukum dan HAM, Supratman Andi Agtas, menyatakan bahwa Satriya secara otomatis kehilangan status WNI-nya karena ikut serta dalam militer asing tanpa izin presiden, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2007.

Apa yang membuat Satriya memilih bergabung dengan militer Rusia? Salah satu alasan utamanya adalah perbedaan gaji yang sangat besar dibandingkan ketika masih menjadi prajurit TNI.

Sebagai tentara Rusia, Satriya menerima penghasilan, di antaranya gaji bulanan 200.000 Rubel (sekitar Rp41 juta) dan bonus awal 400.000 Rubel (sekitar Rp74 juta). Sementara sebagai Sersan Dua TNI, gajinya hanya sekitar Rp2,2 – 3,7 juta per bulan (belum termasuk tunjangan).

Menurut analisis Carnegie Endowment for International Peace, gaji yang ditawarkan Rusia untuk tentara asing ini 10-15% lebih tinggi dari upah rata-rata di Rusia, membuatnya sangat menarik bagi banyak orang.

Rusia diketahui aktif merekrut tentara dari berbagai negara sejak 2023, termasuk dari Kuba, Suriah, Asia Tengah, dan China. Mereka diberi iming-iming gaji besar, bonus, hingga kesempatan mendapatkan kewarganegaraan Rusia. Berdasarkan data Kedutaan Besar Rusia (Maret 2024), ada 10 WNI yang tercatat sebagai tentara bayaran, dengan 4 orang dilaporkan tewas. Namun, TNI menegaskan bahwa mereka bukan prajurit aktif, melainkan kemungkinan WNI yang sebelumnya sudah bergabung dengan militer negara lain.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri akan berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Moskow untuk memastikan status Satriya. Jika benar ia telah bergabung dengan militer Rusia, maka secara hukum ia sudah bukan WNI lagi dan tidak bisa pulang ke Indonesia tanpa proses khusus. (mg3/gni)

Penulis: Kun Lang Ragil (mahasiswa magang STIMATA)

Exit mobile version