Kisah 4 Nelayan Banyuwangi, 4 Hari Terombang-Ambing di Selat Bali

Ilustrasi: perahu nelayan tradisional (foto: Wikimedia)
Ilustrasi: perahu nelayan tradisional (foto: Wikimedia)

Blok-a.com – Keajaiban menyelamatkan empat nelayan asal Banyuwangi yang berhasil selamat setelah mengalami musibah di tengah laut selama empat hari. Tim Pos TNI AL Muncar berhasil mengevakuasi mereka di pesisir Pantai Plengkung pada Kamis, 22 Mei 2025, dalam kondisi lemah namun masih dapat diselamatkan.

Peristiwa bermula pada 17 Mei 2025 ketika kapal fiber bermesin tunggal yang dinahkodai Abdurrahman bersama tiga awak kapalnya – Hamidi, Moh. Soleh, dan Purwanto – sedang mencari ikan di perairan Selat Bali. Gelombang besar tiba-tiba menghantam kapal mereka dari arah belakang.

“Ombak besar datang dari belakang, langsung menghantam kapal kami, lalu kapal kami terbalik,” ungkap Abdurrahman seperti dikutip TribunJatim.

Hantaman gelombang menyebabkan kapal terbalik dan melempar keempat nelayan ke dalam laut. Dalam situasi panik dan dinginnya air laut, mereka berusaha meraih potongan kayu kapal yang masih mengapung. Namun gelombang besar kembali datang dan sempat memisahkan mereka sesaat.

“Alhamdulillah kami handal berenang, jadi tidak sampai terpisah lama dan bisa berpegang kembali pada lambung kapal,” tambah Abdurrahman.

Upaya untuk membalikkan kapal menjadi sia-sia karena cadik atau alat penyeimbang kapal telah patah dan hanyut terbawa arus laut.

Perjuangan hidup mati dimulai ketika keempat nelayan harus bertahan selama empat hari penuh di tengah lautan lepas. Mereka menghadapi tantangan ekstrem tanpa makanan, air minum, dan tempat berlindung. Siang hari, terik matahari membakar kulit mereka, sementara malam hari, dinginnya air laut membuat tubuh menggigil kedinginan.

Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa memakan ikan mentah dan tumbuhan laut yang ditemukan di sekitar lokasi. Harapan kecil muncul ketika mereka menemukan sebotol air mineral yang mengapung, yang kemudian dibagi secara bergantian untuk diminum.

Dalam momen keputusasaan, mereka mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang memecah kesunyian malam di tengah laut. Tanpa mereka ketahui, pada saat bersamaan, keluarga di rumah menggelar pengajian selama tiga hari berturut-turut untuk keselamatan mereka.

Doa-doa tersebut seakan mengantarkan mereka menuju daratan hingga akhirnya tim Pos TNI AL Muncar menemukan keempat nelayan di pesisir Pantai Plengkung. Mereka dievakuasi dalam kondisi dehidrasi dan lemah, namun masih dalam keadaan sadar dan dapat berkumpul kembali dengan keluarga masing-masing.

Abdurrahman menyampaikan rasa syukur mendalam atas keselamatan yang mereka terima. Ia meyakini bahwa keselamatan mereka merupakan rahmat Allah SWT dan hasil dari doa yang tidak pernah putus dari keluarga serta masyarakat di darat. (mg2/gni)

Penulis: Siti Cholifah (mahasiswi magang STIMATA)

Exit mobile version