Usai Arya Daru & Kacab BRI, Kini Heboh Kasus Kematian Janggal Brigadir Esco

Brigadir Esco Faska Rely (29), anggota kepolisian Polsek Sekoteng, Lombok Barat yang ditemukan tewas tak wajar (foto: koranntb)
Brigadir Esco Faska Rely (29), anggota kepolisian Polsek Sekoteng, Lombok Barat yang ditemukan tewas tak wajar (foto: koranntb)

Blok-a.com – Belum tuntas misteri kematian Diplomat Muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arya Daru, dan Kepala Kantor Cabang Pembantu Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cempaka Putih, Muhammad Ilham Pradipta. Publik kembali dihebohkan oleh kasus kematian tak wajar lainnya yang kali ini menimpa Brigadir Esco, anggota kepolisian Polsek Sekoteng, Lombok Barat.

Kasus kematian Brigadir Esco mendadak mencuri perhatian publik dan memunculkan banyak tanda tanya. Sosoknya dikabarkan menghilang selama beberapa waktu sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

Pria yang bernama lengkap Esco Faska Rely (29) hidup bersama istri yang juga seorang polwan bernama Rizka Sintiyani di Dusun Nyiur Lembang, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Di kepolisian, korban berpangkat brigadir yaitu pangkat bintara menengah di Kepolisian RI yang menjalankan tugas operasional seperti intelijen, patroli, dan penyidikan awal. Sementara istrinya berpangkat Briptu yaitu pangkat bintara muda di Polri, satu tingkat di atas Bripda.

Korban dikenal masyarakat sebagai pribadi yang baik hati dan sopan, juga tidak menunjukkan kondisi stres atau masalah yang bisa membuat korban melakukan tindakan yang ekstrem. Fakta itulah yang membuat kabar kematiannya terasa janggal dan sulit dipercaya.

Brigadir Esco dilaporkan hilang oleh keluarga sejak 19 Agustus 2025. Selama beberapa hari pihak keluarga berusaha mencari keberadaannya bahkan sampai meminta bantuan paranormal.

“Saya bersama istrinya juga sempat mencari keberadaannya (Brigadir Esco), sampai kami sempet pakai dukun, tapi tetap nggak ketemu,” kata H. Saihun, selaku mertua korban, dikutip dari Tribunnews, (25/8/2025).

Kemudian selang beberapa hari, H. Saihun menemukan jasad Brigadir Esco di sebuah kebun milik warga sekitar. Pada awalnya sang mertua berniat mencari ayamnya yang hilang, namun yang ditemukan adalah sosok jasad menantunya dengan kondisi terikat tali.

Kondisi Jasad Korban Menimbulkan Tanda Tanya

Korban ditemukan tewas di kebun belakang 50 meter dari rumahnya di Dusun Nyiur Lembang, Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar. Kondisi penemuan jasad menimbulkan banyak kejanggalan yang membuat polisi curiga.

Korban ditemukan dalam kondisi tubuh membengkak, wajah rusak, dan leher terjerat tali di sebuah pohon di area perbukitan. Yang mencurigakan, tubuhnya tergeletak di bawah pohon dalam keadaan terlentang, dengan leher terikat tali nilon, bukan seperti umumnya kasus bunuh diri.

“Hasil olah TKP menunjukkan bahwa korban ditemukan tak bernyawa dengan leher terikat tali pada batang pohon. Posisi tubuh korban berada di sekitar pohon di area dengan kondisi tanah yang miring dan agak curam,” jelas AKP Lalu Eka, Kepala Polres Lombok Barat menjelaskan hasil olah TKP.

Selain itu, terdapat luka robek di wajah dan bekas hantaman benda tumpul di tubuhnya. Jenazah yang sudah mulai membusuk memperkuat dugaan bahwa Esco telah meninggal beberapa hari sebelumnya.

Fakta lain yang semakin membuat kasus ini misterius adalah kondisi sang istri. Dua hari setelah Esco dinyatakan hilang, istrinya mendadak jatuh sakit. Meski belum bisa dikaitkan langsung, kabar ini menambah daftar pertanyaan yang belum terjawab.

Penyelidikan Masih Berlanjut

Saat ini, jasad Brigadir Esco sudah diautopsi di RS Bhayangkara Mataram. Pihak kepolisian masih menunggu hasil resmi pemeriksaan medis untuk memastikan penyebab kematian.

Namun, temuan luka benda tumpul serta posisi jasad saat ditemukan semakin memperkuat dugaan adanya tindak kekerasan sebelum Esco meninggal

“Ada luka, nggak ada (anggota tubuh hilang) luka saja, itu hasil visum luar,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda NTB, Kombes Pol Syarif Hidayat,, Senin (25/8/2025).

Saat ini, pihak kepolisian tengah mengekstrak ponsel milik Brigadir Esco untuk keperluan penyelidikan. Polda NTB telah membentuk tim penyelidik gabungan untuk mengusut kasus ini secara menyeluruh.

Syarif juga menegaskan bahwa hasil autopsi menjadi bukti fundamental yang mengubah status kasus. Dari dugaan bunuh diri menjadi kasus pembunuhan yang sedang diselidiki intensif. (mg2/gni)

Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)

Exit mobile version