Jelang 100 Hari Tragedi Kanjuruhan, Keluarga Korban Geruduk Kantor DPRD Kota Malang

Suasana audiensi keluarga korban Tragedi Kanjurugan bersama DPRD Kota Malang di gedung DPRD Kota Malang, Selasa (3/1/2023) (blok-a/Putu Ayu Pratama S)

Kota Malang, blok-a.com – Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan gelar audiensi bersama jajaran ketua DPRD Kota Malang untuk tegakkan keadilan serta perjuangkan kesejahteraan.

Audiensi keluarga korban Tragedi Kanjuruhan ini berlangsung pada Rabu (3/01/2023) dan menjadi audiensi pertama yang digelar oleh jajaran Ketua DPRD Kota Malang bersama rakyat di tahun 2023. Audiensi ini bertempat di ruang Rapat Internal DPRD Kota Malang.

Para keluarga korban mendesak pemerintah dengan melakukan audiensi bersama wakil rakyat Kota Malang untuk mendapatkan titik keadilan dan kesejahteraan.

Salah satu keluarga korban Tragedi Kanjuruhan, Hari Prasetyono (56) yang ditinggal oleh putrinya mengatakan dirinya datangi kantor DPRD untuk tuntut keadilan dan kesejahteraan bagi cucu cucunya yang masih balita.

Kakek paruh baya ini mengatakan dirinya tak menuntut apa apa, yang ia inginkan hanya kesejahteraan bagi cucunya di masa depan.

Hingga kini, kata Hari, cucunya yang berusia 3 tahun ini mengalami trauma hingga masih sering menanyakan keberadaan mamanya yang telah tiada.

“Mereka sekarang trauma, gak bisa apa-apa, selalu menanyakan mama dimana. “Mama kerja, nak” itu yang saya sampaikan ke dia,” ungkap Hari saat di temui seusai melakukan audiensi di kantor DPRD Kota Malang pada Selasa (3/01/2023).

Menurut Hari yang terpenting saat ini adalah mencari jalan supaya trauma yang dialami cucunya bisa teratasi. Diusianya yang tak lagi muda dirinya mulai memikirkan nasib cucunya di masa depan kelak.

“Saya gak nuntut apa-apa, gak banyak-banyak harus diadili, gak. Saya cuma nuntut tolong kesejahteraannya sampai nanti dia dewasa, biar enggak trauma, mereka gak mikir kejadian. Itu saja saya gak nuntut yang lain,” terangnya.

Hingga kini, kondisi cucunya masih sering emosi tinggi. Hal tersebut yang membuatnya kebingungan untuk menghadapi sifat cucunya. Bahkan, hampir setiap hari cucunya susah tidur dan masing sering berbicara sendiri menyebut nama mamanya.

“Hampir setiap malam dia selalu ngomong sendiri. Paling sore dia tidur itu jam dua belas malam. Malah kadang semalam gak tidur. Minta makan, “Ma minta makan. Ya sama neneknya dikasih makan,”kata Hari.

Kondisi demikian yang membuatnya kebingungan, sehingga ia mendesak untuk melakukan tindakan lanjutan trauma healing yang dibentuk Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dan Polresta Malang Kota.

“Penanganan trauma healing belum ada. Makanya saya sampaikan tolonglah psikologinya cucu saya ini gimana,” pungkasnya.(ptu/bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?