Islam Nusantara Dibilang Melenceng dari Ajaran Islam, KH Marzuki Mustamar: Malah Terinspirasi dari Nabi

Kh Marzuki Mustamar
Kh Marzuki Mustamar - Foto: Bob Bimantara Leander

KABUPATEN MALANG – Islam Nusantara menjadi paham yang dipercayai warga Nahdlatul Ulama (NU).

Paham tersebut bukanlah paham yang melenceng dari ajaran Islam seperti yang digembor-gemborkan beberapa pihak.

Paham Islam Nusantara justru merujuk pada Alquran dan hadist Nabi Muhammad SAW.

Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar menjelaskan, Islam Nusantara adalah salah satu paham islam yang memunculkan rasa cinta tanah air dan juga cinta agama atau orang NU sebut dengan Hubbul Waton Minal Iman.

“Umat islam ini ya bela Islam ya bela Negara. Itu ada hubungannya bukan tidak ada hubungannya. Ada hubungannya. Rasullulah pun mencontohkan itu. Bela Islam ya bela Negara,” tutur Marzuki saat berceramah diacara peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram di Penadapa Agung Kabupaten Malang, Senin (7/9).

Contohnya adalah pada masa hijrah Nabi Muhammad SAW di Madinah. Waktu itu umat Islam masih menghadap ke Palestina atau Masjid Al- Aqsa sebagai kiblat untuk salat.

Nabi pun meminta ke Allah SWT untuk menghadap ke Masjidil Haram atau ke Makkah. Makkah yang mana adalah tanah kelahiran Nabi.

“Padahal waktu itu Makkah banyak dan hampir 100 persen yang musyrik dan banyak berhala juga. Tapi Nabi minta kiblat diganti ke Makkah. Nah inilah bukti, nyuwun sewu (permisi) saya menyimpulkan, ini bukti Nabi sungguh cinta ke tanah air, meskipun dalam keadaan apapun,” tuturnya.

Lantas, Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Muhammad SAW denga turunnya surat Al-Baqarah ayat 144.

“Dan inilah mengapa Islam Nusantara itu bukan paham yang melenceng malah itu ajaran Nabi sendiri,” tutupnya.

Berikut surat Al-Baqarah ayat 144:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Arab latin: Qad narā taqalluba waj-hika fis-samā`, fa lanuwalliyannaka qiblatan tarḍāhā fa walli waj-haka syaṭral-masjidil-ḥarām, wa ḥaiṡu mā kuntum fa wallụ wujụhakum syaṭrah, wa innallażīna ụtul-kitāba laya’lamụna annahul-ḥaqqu mir rabbihim, wa mallāhu bigāfilin ‘ammā ya’malụn

Artinya: Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Exit mobile version