Kota Malang, blok-A.com – Siapa yang tak kenal dengan Hotel Pelangi ? Hotel yang berada di sisi selatan Alun Alun kota Malang ini ternyata termasuk hotel tertua di kota Malang dan menjadi bangunan cagar budaya kota Malang loh, Yuk baca selengkapnya.
Kota Malang merupakan salah satu daerah yang memiliki sejarah unik, kota yang memiliki beberapa bangunan bersejarah dengan usia yang tak lagi muda. Meskipun beberapa bangunan telah dialihfungsikan karena zaman yang sudah silih berganti, namun jangan salah ternyata masih ada loh bangunan yang masih bertahan pada fungsi awalnya, bangunan tersebut yakni Hotel Pelangi.
Hotel dengan ornamen khas Belanda ini memiliki cerita sejarah yang panjang, dan beberapa kali berganti nama namun masih dengan kefungsian yang sama dari awal yakni sebagai tempat singgah atau hotel.
Menurut cerita Pengamat Budaya dan Sejarah Kota Malang, Agung Buana meceritakan sejarah Hotel Pelangi sebelum disahkan menjadi bangunan cagar budaya di tahun 2018 silam.
“Itu sudah masuk cagar budaya tahun 2018 silam mbak. Itu hotel tertua,” ujarnya ke blok-A.com.
Menurutnya Hotel Pelangi ini memiliki sejarah panjang yang cukup memberikan kontribusi di Kota Malang, khususnya perkembangan perkotaan dan perkembangan kemajuan ekonomi di kota Malang pada saat itu.
Sejarah tersebut diawali dengan munculnya aktivitas tanam paksa pasca perang jawa di tahun 1825 sampai 1830, akibat adanya perang jawa tersebut keuangan atau kas Belanda terkuras. Sehingga Belanda membuat kebijakan untuk melakukan tanam paksa untuk komoditi yang laku di pasar Internasional, salah satu yang dilakukan Belanda adalah mencari daerah daerah baru yang mampu menyuplai kebutuhan komoditas seperti kopi, tebu, karet dan lain lain.
Sedangkan saat berkunjung di kota Malang, saat itu Belanda hanya menemukan komoditas tebu dan kopi, nah pada kegiatan tanam paksa tersebut mulai di lakukan di kota Malang pada tahun 1840, selanjutnya pada tahun 1850 di kota Malang panen kopi sudah mulai bermunculan.
Pada masa panen tebu dan kopi tersebut menjadi awal mula rombongan orang Belanda yang tinggal di wilayah Pasuruan masuk ke kota Malang untuk urusan panen tebu dan kopi.


Kedatangannya dari Pasuruan ke kota Malang untuk urusan perkebunan tersebut mengakibatkan kebutuhan akan akomodasi penginapan, dan pada akhirnya ada seorang yang bernama Abraham Lapidot membuat hotel yang bernama Lapidot pada tahun 1860.
Hotel tersebut berada tepat di lahan Hotel Pelagi sekarang, namun dulu pada masa Hotel Lapidot hanya menyediakan kurang lebih 50 kamar. Hotel Lapidot sendiri menjadi hotel pertama yang beridiri di kota Malang.
Selanjutnya, Hotel Lapidot berkembang hingga tahun 1900-an dan akhirnya Hotel Lapidot di jual dan dibeli oleh pemilik Hotel Jensen, Hotel Jensen sendiri sekarang berada di sekitar Malang Plaza dekat Hotel Santoso. Setelah dibeli dengan pemilik Hotel Jensen, Hotel Lapidot berganti nama menjadi Hotel Jensen 2.
Hotel Jensen berlangsung hingga tahun 1915, selanjutnya Hotel Jensen dibeli kembali oleh seseorang Belanda yang akhirnya berganti nama kembali dengan Hotel Palace.
Pada tahun 1915 tersebut, Hotel Palace mulai diubah bentuk arsitekturnya, yang awalnya dengan bangunan arsitek Indische Empire dirubah menjadi konsep arsitekstur tahun 1920-an yaitu model Indische namun tidak Empire.
Dari situ yang mengakibatkan bangunan Hotel Palace menjadi lebih banyak sebanyak 3x lipat kamarnya, dari yang awalnya 50 kamar menjadi 127 kamar. Hal tersebut menjadi perubahan struktur oraganisasi dan hotel Palace menjadi hotel modern baru di kota Malang.
Setelah Hotel Palace merunning hotelnya mulai tahun 1915 sampai tahun 1942, hotel Palace berganti nama menjadi Hotel Azuma karena pada saat itu pemerintah Jepang masuk ke kota Malang dan merubah nama hotel Palace menjadi Hotel Azuma.
Pada tahun 1945-1947 hotel Azuma kembali berganti nama menjadi Hotel Republik, karena pada saat itu Hotel Azuma banyak digunakan sebagai tempat pertemuan Tentara Republiken sehingga hotel tersebut diganti nama menjadi Hotel Republik.
Pada tahun 1947 Hotel Republik dibakar oleh Gerliyawan Rakyat Kota yang mengakibatkan menara serta gedung Hotel tersebut terbakar serta mendapat serangan Boom pada peristiwa Malang Bumi Hangus.
Pada tahun 1947 sampai 1949 hotel Republik tidak bisa digunakan karena bekas peristiwa Malang Bumi Hangus. Selanjutnya, pada tahun 1950-an ada pengusaha asal Banjarmasin yang bernama Hj. Syahran membeli hotel Republik dan mengganti namanya menjadi Hotel Pelangi.
Sejak itu Hotel Pelangi menjadi kepemilikan keluarga Hj Syahran dari Banjarmasin, serta berkembang hingga saat ini. Sejak dibeli oleh keluarga Hj Syahran hotel tersebut berganti nama menjadi Hotel Pelangi kemudian menara di Hotel Pelangi dihilangkan karena dirasa sudah tidak layak setelah terjadinya peristiwa Malang Bumi Hangus.
Namun, Agung Buana menyebutkan 90 persen bangunan Hotel Pelangi tersebut masih terjaga keasliannya. Seperti kasat bangunan, kanan kiri bangunannya, Agung juga mengatakan lobi milik Hotel Pelangi sangat luar biasa serta terdapat lukisan dari keramik yang masih terpasang rapi pada Hotel Pelangi.
Hotel Pelangi memiliki tempat yang strategis yang tak terpisah jauh dari Alun Alun kota Malang, tapatnya di Jalan Merdeka Selatan. Tempatnya yang strategis membuat wisatawan tidak kesusahan jika ingin berkunjung menikmati keindahan dan keasrian kota Malang lewat bangunan Hotel tertua di Kota Malang ini, meskipun demikian hotel Pelangi ini masih tampak terawat cantik dan berdiri kokoh di bagian Selatan Alun alun kota Malang. (mg2/bob)




