Hasil Survei MMI, Kadisdikbud Kota Malang Sebut Lagu Anak-anak Terancam Tak Diproduksi Lagi

Ilustrasi : Anak kini jauh dari lagu anak dan daerah (foto : Widya Amalia)
Ilustrasi : Anak kini jauh dari lagu anak dan daerah (foto : Widya Amalia)

blok-a.comLagu merupakan bagian penting dari identitas. Terutama lagu anak dan daerah.

Sayangnya, sebagian besar anak di kota Malang tidak memiliki minat pada lagu anak dan daerah.

Museum Musik Indonesia (MMI) telah membuat survei mengenai lagu daerah dan anak di Kota Malang. Sayangnya, hasil menunjukkan banyak anak tidak hafal lagu daerah. Malah, banyak di antaranya yang tidak mengetahui lagu daerah.

Ketua MMI Ratna Sakti Wulandari menyatakan, berdasarkan hasil survei yang didapat, banyak anak-anak tidak mengetahui lagu daerah.

“Hasilnya mereka banyak yang tidak mengenal lagu-lagu daerah. Ada yang menjawab tahu, tapi lupa. Ada pula yang menjawab sama sekali tidak tahu.” ujarnya.

MMI mengambil survei pada anak-anak secara acak. Rentang usianya antara Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pertanyaannya meliputi pengetahuan lagu-lagu daerah. Survei itu dilakukan saat Car Free Day (CFD) di Jalan Ijen Kota Malang beberapa waktu lalu.

Berdasarkan hasil survei tersebut, Ratna berpendapatan kondisi itu mengkhawatirkan. Pasalnya, pada temuan yang lain diketahui kalau anak-anak yang disurvei lebih suka lagu Korea atau K-Pop dan lagu barat.

Sementara itu, Humas Museum Musik Indonesia, Abdul Malik mengatakan bahwa sejumlah platform media sosial memiliki peran penting. Ya, keberadaan sosial media mampu mempengaruhi pertumbuhan anak.

Contohnya, seperti Tiktok yang masif digunakan. Media sosial raksasa asal Cina itu menyediakan konten berbasis lagu-lagu barat atau Korea. Ironisnya mayoritas adalah lagu-lagu orang dewasa dengan unsur percintaan.

“Di Tiktok ada banyak lagu tapi bukan lagu daerah. Ada lagu daerah tapi tidak terlalu banyak. Kita harus memasifkan itu di Tiktok itu adalah salah satu cara untuk memasifkan,” tutur Malik.

Merujuk pada hasil survei, Malik menyebut nasionalisme anak-anak muda Indonesia berada di lampu merah atau memprihatinkan. Memang survei yang mereka lakukan sebatas lagu daerah namun pengetahuan soal lagu daerah menjadi tolak ukur awal betapa rapuhnya posisi lagu daerah di era digital.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana berpendapat lain. Dia justru menilai anak di tingkat SD dan SMP banyak yang tidak mengenal lagu anak-anak.

“Kalau lagu daerah insha Allah ingat, justru yang tidak ingat itu lagu anak-anak karena produser tidak membuat lagu anak-anak,” ungkapnya, Rabu (16/8).

Menurutnya, saat ini banyak produser musik lebih memilih lagu populer daripada lagu anak-anak untuk diproduksi. Akhirnya, pengetahuan anak terhadap konten lagu daerah maupun anak menjadi minim. Produser musik sendiri, lanjut dia, harus memiliki kepekaan terhadap kondisi tersebut sehingga memproduksi lagu anak-anak.

“Masalah kurang hafalnya kan masalah pemahaman saja kepada anak-anak. Ancaman yang terjadi sekarang adalah produser tidak memproduksi lagu anak-anak,” tukas Suwarjana. (mg2/)

Exit mobile version