Ponorogo, blok-a.com – Jagung Hibrida Varietas TKS 234 atau Reog 234 musti dipatenkan. Selain produksinya banyak per hektare, juga merupakan inovasi asli temuan warga Ponorogo.
Varietas Jagung 234 ini unggul dalam produksi 10,2 hingga 12,4 ton per hektare, dan tahan cuaca esktrem, hujan atau kemarau.
Menariknya, juga bisa ditanam di berbagai kontur wilayah baik dataran rendah maupun dataran tinggi.
Untuk kandung gizi, varietas TKS 234 atau Reog 234 ini juga memiliki kadar Karbohidrat 85,43%, kadar Protein 9,10%, dan kadar Lemak 3,95%.
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengatakan Jagung Jenis Hibrida Varietas TKS 234 atau Reog 234 hasil karya anak Ponorogo.
Varietas ini masa tanamnya tidak jauh dengan varietas lain dengan harga jauh lebih murah, namun nilai tambah besar bagi petani.
“Ini asli bikinan putra-putra Ponorogo. Ke depan Ponorogo selain penghasil jagung juga penghasil benih jagung,” pungkasnya.
Menurut data BPS, produksi jagung Jatim, pada 2021 mencapai 6,662 juta ton PPK dari luas panen 1,230 juta Ha dengan rata-rata produktivitas sebesar 54,16 Ku/Ha.
Produksi jagung Jatim itu berkontribusi 26,34 % terhadap nasional. Jatim pun dinobatkan jadi provinsi tertinggi penghasil jagung di Indonesia.
Sedangkan berdasarkan data sementara BPS, produksi jagung di Jatim pada 2022 diprediksi mencapai 7,319 juta ton PPK dari luas panen 1,326 juta Ha.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, dikonfirmasi usai acara panen jagung, Jumat (3/3/2023) mengatakan market jagung sangat tinggi. Baik untuk pakan ternak, industri makanan, produk minuman industri rumah tangga.
Secara komulatif kebutuhan Jagung untuk Jawa Timur sebesar 4.416.911 ton. Untuk kebutuhan pakan ternak sebesar 3.364.617 ton, untuk industri non pakan tercatat 961.745 ton dan untuk konsumsi rumah tangga sebesar 90.549 ton.
Untuk industri pakan ternak di Jatim dibedakan menjadi dua. Pertama Industri Pakan Ternak Mandiri Skala Kecil dan, Industri Pakan Ternak Sedang dan Besar (Manufaktur).
Gubernur Khofifah bersyukur dan berharap varietas 234 ini ini segera didaftarkan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) ke Ditjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham.
“Sama seperti Reog Ponorogo, kalau benih ini dipasarkan ke daerah lain mau ditanam di Medan, di Maluku, di NTT namanya tetap varietas Reog 234. Seperti Reog Ponorogo,” katanya.
Dengan adanya varietas Reog 234, Khofifah optimistis produktivitas jagung Jatim akan meningkat.
“Varietas ini akan menjadi kebanggan tidak hanya masyarakat Ponorogo tapi juga masyarakat Jatim,” pungkasnya.(kim/lio)




