Blok-a.com – Gedung Grahadi adalah salah satu bangunan bersejarah paling penting di Surabaya, Jawa Timur. Dibangun pada 1795, awalnya berfungsi sebagai tempat peristirahatan, lalu beralih jadi rumah dinas gubernur. Namun, kini kondisinya mengkhawatirkan dengan bagian sayap kirinya yang hangus, akibat dibakar orang tak dikenal saat demo massa pada Sabtu (30/8/2025) lalu.
Berusia hampir 250 tahun, Gedung Grahadi dibangun pada masa pemerintahan Residen Dirk van Hogendorp. Nama ‘Grahadi’ sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna “rumah indah”. Ini mencerminkan kemegahan fungsi tempat tinggal pejabat penting masa kolonial.
Arsiteknya Ir. W. Lemci, menerapkan desain berkonsep tuinhuis atau rumah yang dikelilingi taman bunga. Bangunan rumah taman bergaya Eropa dengan tata ruang simetris, tiang besar menjulang di bagian depan, dan halaman luas yang lapang.
Pada masa itu, Sungai Kalimas merupakan sebagai jalur transportasi utama di Surabaya. Awalnya, Gedung Grahadi dibangun menghadap ke Sungai Kalimas, sehingga sehingga penghuni bisa menikmati sore dengan minum teh sambil menyaksikan lalu-lalang perahu. Namun, pada 1802, orientasi bangunan diubah ke arah selatan, posisi yang masih bertahan hingga kini.
Fungsi dari Masa ke Masa
Gedung ini awalnya berfungsi sebagai rumah kebun dan tempat peristirahatan pejabat Belanda. Setelah Dirk van Hogendorp, rumah ini kemudian dihuni oleh Fredrik Jacob Rothenbuhler pada periode 1799–1809
Pada 1810, di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, Grahadi direnovasi bergaya Indische Empire Style alias Dutch Colonial Villa, menjadikannya lebih megah seperti kediaman bangsawan Perancis. Fasadnya kini lebih dominan, dengan kolom klasik, denah simetris, teras depan dan belakang yang mencolok.
Saat pendudukan Jepang (1942–1945), gedung ini diambil alih sebagai kantor pemerintahan militer dan ruang sidang Raad van Justitie, sekaligus difungsikan untuk pesta dan resepsi elite pemerintah kolonial.
Setelah proklamasi, Grahadi menjadi rumah dinas Gubernur Jawa Timur, RT Soerjo menempatinya pertama kali pada 1946–1948. Gedung ini melahirkan banyak keputusan penting pemerintahan, menjadi saksi pidato Presiden Soekarno pada era 1950-an, hingga menjadi pusat konsolidasi pemerintahan
Seiring berkembangnya Surabaya, lokasi awal Grahadi yang dulunya pinggiran kota kini berada di pusat kota. Sejak 1991, gedung ini dibuka sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi publik, serta resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kota Surabaya. Selain itu, sayap kanan gedung juga digunakan sebagai Ruang Presiden saat kunjungan kerja kenegaraan.
Hingga 30 Agustus 2025, Grahadi tetap menjadi pusat aktivitas dinasi, seperti acara pelantikan pejabat, upacara peringatan nasional, penyambutan tamu penting, dan tempat berkumpul masyarakat dalam berbagai kegiatan, termasuk demo.
Namun, pada Sabtu (30/8/2025) malam lalu, gedung terbakar saat aksi unjuk rasa ricuh. Bagian barat Grahadi, termasuk ruang kerja Wakil Gubernur dan press room, hangus terbakar karena molotov dilempar oleh segelintir oknum tak dikenal. Namun, meski terbakar, area inti dari bangunan yang merupakan cagar budaya masih terbilang aman.
Hal itu seperti dijelaskan oleh Drs. Sumarno M.Hum. dari Unesa, Tim Ahli Cagar Budaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya periode 2017-2024. Ia menjelaskan bahwa bagian yang terbakar bukan zona inti bangunan, dan tidak mengurangi nilai budayanya.
“Gedung Grahadi yang terbakar bukan zona inti, jadi masih bisa dianggap aman, tidak mengurangi nilai cagar budaya,” jelasnya kepada wartawan, Senin (1/9/1025), dilansir dari Times Indonesia. (mg1/gni)




