Dukung Ketahanan Pangan, Lapas Banyuwangi Tebar 5.000 Bibit Lele di Kolam Bioflok

Dalam rangka mendukung ketahanan pangan sekaligus memperingati Hari Ibu ke-97, pegawai perempuan Lapas Kelas IIA Banyuwangi melepas bibit lele di kolam bioflok. (dok Humas Lapas)
Dalam rangka mendukung ketahanan pangan sekaligus memperingati Hari Ibu ke-97, pegawai perempuan Lapas Kelas IIA Banyuwangi melepas bibit lele di kolam bioflok. (dok Humas Lapas Banyuwangi)

Banyuwangi, blok-a.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program Ketahanan Pangan Nasional. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui pelepasan 5.000 bibit lele di kolam bioflok yang berada di area brandgang Lapas, Senin (22/12/2025).

Kegiatan ini menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan. Melalui budidaya perikanan, Warga Binaan dibekali keterampilan teknis yang diharapkan dapat menjadi bekal produktif setelah kembali ke masyarakat.

Ada hal berbeda dalam kegiatan tersebut. Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu, pelepasan ribuan bibit lele dilakukan sepenuhnya oleh pegawai perempuan Lapas Banyuwangi.

Aksi ini menjadi bentuk apresiasi terhadap peran perempuan di lingkungan pemasyarakatan sekaligus simbol kepedulian dalam proses pembinaan Warga Binaan.

Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menjelaskan bahwa pengelolaan dan perawatan kolam bioflok akan dilakukan langsung oleh Warga Binaan dengan pendampingan petugas.

“Warga Binaan akan diarahkan dan diberikan materi teknis untuk menambah keterampilan mereka yang bisa dimanfaatkan setelah bebas nanti,” ujarnya.

Menurut Wayan, Lapas Banyuwangi secara konsisten menjalankan program ketahanan pangan melalui berbagai sektor, baik pertanian maupun perikanan.

“Kami terus bergerak cepat mendukung program pemerintah. Meski fokus utama ketahanan pangan kami berada di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Pakis, kami juga berupaya memanfaatkan setiap jengkal lahan yang tersedia di dalam area Lapas secara optimal,” ungkapnya.

Pemanfaatan sistem bioflok di area brandgang, lanjut Wayan, membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi hambatan untuk tetap produktif.

“Meski di tempat terbatas, kami akan terus berupaya untuk mengoptimalkan berbagai program pembinaan,” pungkasnya.(kur/lio)

Exit mobile version