Sumenep, blok-a.com – Gonjang ganjing adanya kelebihan transfer yang nyaris mencapai Rp 50.000.000 oleh Dinas Kesehatan Sumenep ke pihak hotel jadi bola panas. Bahkan desas desus yang berkembang di masyarakat, transfer itu dugaan adanya mark up anggaran.
Sesuai petunjuk dari Kabid Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinkes Kabupaten Sumenep As’ad Zainudin bahwa penanggung jawab pelaksana kegiatan itu Syaiful selaku pegawainya. Syaiful berdalih itu terburu-buru karena waktunya mepet lantaran anggaran DAK itu harus segera terserap.
Saat hendak mengkonfirmasi ke Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Sumenep Agus Mulyono hanya memberikan pertimbangan. Pihaknya menunggu hasil audit BPK. Jika itu dianggap sebuah kesalahan harus dituntaskan. Dan jika petunjuknya harus mengembalikan uang ke Kasda, silahkan dikembalikan.
Ditanya kenapa ada transfer yang membengkak hingga puluhan juta dari uang sewa yang harus dibayarkan ke pihak hotel? Agus tak mampu menjawab. Dia yang ditemani Syaiful selaku penanggung jawab pelaksana kegiatan meminta Syaiful untuk menjawab.
Syaiful lantas menjelaskan program penyuluhan “Komunikasi, Edukasi, dan Inovasi” pada Rabu (1/12/2021) lalu yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) itu waktu pelaksanaan kegiatannya mepet.
Sehingga, lanjut Syaiful, karena terburu-buru makanya dana itu ditransfer total ke hotel. Ketika ditanya kenapa kok trasnfer Rp 52 juta, padahal biaya bayar sewa hall nya hanya Rp2,7 juta?? Syaiful beralasan itu untuk bayar daro seluruh biaya kegiatan sewa termasuk biaya makan, minum dan lainnya.
“Kan jumlah pesertanya sekitar 200 orang. Per orang biayanya sekitar Rp 250 ribu. Jadi biaya keseluran Rp 50 juta plus sewa hall hotel Rp 2,7 juta,” beber dia.
Disinggung terkait kenapa ditransfer ke hotel sebanyak Rp 52 juta. Padahal biaya makan, minum (Mamin) dan lainnya tidak iklud atau beli paket pesanan ke hotel. Artinya hanya sewa hotel dan mamin beli di warung bukan pesan di hotel.
Lantas Syaiful berdalih itu mungkin kesalahannya karena waktunya mepet. Sementara anggaran harus terserap. Namun soal itu pihaknya menyerahkan ke BPK atau inspektorat sambil menunggu hasil audit.
“Jika memang itu salah, saya siap bertanggung jawab. Saya siap mengembalikan dana itu ke Kasda,” terang Syaiful di hadapan para awak media. (Aldo/Gatut)




