Kabupaten Malang, blok-a.com – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang berencana mendorong penyelenggaraan event wisata di kawasan pantai Malang Selatan setiap tiga bulan sekali. Upaya ini ditujukan untuk memperkuat promosi destinasi sekaligus menggerakkan pelaku usaha kuliner dan UMKM setempat.
Kepala Disparbud Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang, mengatakan potensi wisata pesisir perlu dikelola lebih optimal melalui kolaborasi antara destinasi, kesenian, kebudayaan, dan kuliner lokal.
Mando menuturkan, Disparbud berperan menjembatani pengelola pantai dengan pelaku usaha dan komunitas seni agar setiap destinasi memiliki daya tarik yang lebih beragam.
“Dengan begitu, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pantai, tetapi juga memiliki alasan untuk mencoba kuliner khas di kawasan tersebut,” ujar Firmando, Senin (12/10/2026).
Firmando mencontohkan sejumlah pelaku kuliner yang sudah dikenal, seperti Mbok Se di Gedangan. Ke depan, ia berharap semakin banyak warung dan pelaku kuliner lokal memiliki menu andalan yang dapat menjadi identitas masing-masing destinasi.
“Harapan kami, kalau didukung APBD kami akan lakukan. Potensi kita itu sudah berlebih, anugerah luar biasa, tetapi kalau tidak kita kelola dan manfaatkan dengan baik dengan promosi yang kuat, nanti tidak menjadi luar biasa, menjadi biasa-biasa saja,” tambah Firmando.
Ia mengungkapkan event wisata dapat digelar bergiliran di berbagai pantai. Jika belum memungkinkan setiap bulan, penyelenggaraan setiap tiga bulan sekali dinilai bisa menjadi langkah awal untuk menjaga aktivitas promosi tetap berjalan.
Namun, ada syarat yang ditekankan kepada pengelola pantai, yakni komitmen menerapkan Sapta Pesona sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan dan pengalaman wisatawan.
“Komitmen itu harus dilakukan oleh para pengelola pantai yang ada di wilayah Malang Selatan,” ungkapnya.
Di sisi lain, Firmando menyebut Disparbud belum dapat memastikan jumlah pantai yang telah menerapkan seluruh unsur Sapta Pesona. Sebagai salah satu upaya promosi, pihaknya telah memasukkan 10 pantai dalam Majalah Kabupaten Malang. Pantai-pantai tersebut dinilai telah memiliki standar pengelolaan, salah satunya dalam penanganan sampah.
Ia menambahkan, persoalan sampah masih menjadi tantangan di kawasan pantai Malang Selatan. Belum semua destinasi memiliki sistem pengelolaan sampah yang jelas, sementara Pemkab Malang tidak memiliki lahan sendiri di kawasan tersebut untuk fasilitas pengolahan sampah.
Karena itu, Disparbud berupaya menjalin pendekatan dengan pihak Perhutanan Sosial agar tersedia lokasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan sampah.
“Pengelolaan sampah belum semua pantai ini jelas pengelolaannya. Ini yang harus kita dorong,” bebernya.
Firmando menjelaskan, Sapta Pesona merupakan konsep sadar wisata yang mencakup tujuh unsur, yakni aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan kenangan.
Ketujuh unsur tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi pengelola destinasi dalam menciptakan lingkungan yang nyaman dan menarik bagi wisatawan.
Unsur kenangan, misalnya, dapat diperkuat melalui pengalaman berwisata yang menyenangkan, keramahan pelayanan, serta keberadaan kuliner dan suvenir khas daerah. Sementara itu, kebersihan, keamanan, dan ketertiban menjadi bagian penting yang menentukan kenyamanan pengunjung.
Firmando menegaskan, penerapan Sapta Pesona bukan sekadar pelengkap kegiatan promosi, melainkan bagian dari upaya membangun kesan positif agar wisatawan bersedia kembali berkunjung.
“Melalui penguatan pengelolaan destinasi, promosi kuliner, dan penyelenggaraan event secara berkala, kami berharap potensi wisata pantai Malang Selatan dapat berkembang sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” pungkasnya. (yog)









