Dinsos Kota Malang Paparkan Pencegahan Perempuan Agar Tidak Open BO

Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang, Donny Sandito saat bertemu awak media di Polresta Makota (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang, Donny Sandito saat bertemu awak media di Polresta Makota (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kota Malang, blok-a.com – Kasus lima perempuan yang terjaring dalam razia rumah kos di Kota Malang beberapa waktu lalu kembali menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam mencegah praktik open BO atau bisnis prostitusi tersebut.

Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang, Donny Sandito, menegaskan bahwa pencegahan agae perempuan tidak open BO itu harus dimulai dari keluarga dan komunitas terdekat.

“Yang terpenting adalah komunikasi. Orang tua harus mengetahui kegiatan anggota keluarganya, ke mana saja, dan dengan siapa. Jadi bisa saling mengawasi,” ujar Donny.

Selain keluarga, masyarakat juga memiliki peran besar dalam pencegahan. Menurutnya, sistem pelaporan di tingkat RT sangat penting agar setiap individu dalam lingkungan bisa saling menjaga.

“Ketua RT harus tahu siapa saja yang tinggal di wilayahnya. Makanya, wajib lapor bagi warga baru itu penting,” tambahnya.

Dinsos Malang sendiri memiliki berbagai program untuk pencegahan, seperti Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), dan program Kelurahan Layak Anak. Selain itu, juga ada Duta Genre yang berperan dalam memberikan edukasi kepada remaja tentang bahaya praktik asusila.

Donny menjelaskan, salah satu kunci utama dalam pencegahan adalah keberanian masyarakat untuk melaporkan jika ada indikasi kekerasan atau eksploitasi terhadap perempuan dan anak.

“Dengan semakin banyaknya laporan, artinya masyarakat mulai berani speak up. Ini berarti mereka merasa pemerintah dekat dan nyaman untuk melaporkan,” jelasnya. (yog/bob)

Exit mobile version