Dianggap Mampu Beli Minyak Premium, Kalangan Menengah ke Atas Disarankan Tak Ambil Minyakita

Ilustrasi/MinyaKita yang dibanderol dengan HET Rp14.000. (Foto: Biro Humas Kemendag)
Ilustrasi/MinyaKita yang dibanderol dengan HET Rp14.000. (Foto: Biro Humas Kemendag)

blok-a.comStaf Khusus Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Antar-Lembaga Syailendra meminta masyarakat menengah agar tetap membeli minyak goreng premium, tanpa ikut beralih ke Minyakita di pasaran.

Menurutnya, ketersediaan minyak kita hanya diprioritaskan bagi masyarakat menengah ke bawah.

“Masyarakat menengah ke atas yang sudah biasa beli [minyak goreng] premium, ya, sudah jangan pindah dulu [ke Minyakita]. Sebaiknya mereka enggak usah pindah. Kan, mampu beli [minyak premium],” ujarnya, dikutip dari CNNIndonesia, Jumat (17/2).

Menurut Syailendra, jika Minyakita turut dibeli oleh golongan masyarakat mampu, maka stoknya akan berkurang bagi masyarakat menengah ke bawah.

“Kalau menengah ke atasnya banyak, walaupun [beli] 1-2 liter, kan, jadi banyak juga,” ujarnya.

Seperti diketahui, Minyakita mendadak langka di sejumlah daerah sejak akhir Januari lalu. Kalaupun ada, harga jual dari pedagang melonjak di atas harga eceran tinggi (HET) Rp14 ribu per liter.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan pun membeberkan sejumlah alasan kenapa Minyakita langka di pasaran.

Salah satunya adalah program biodiesel B35 yang meningkatkan penggunaan CPO yang merupakan bahan baku minyak goreng.

Dalam program B35, pemerintah akan meningkatkan persentase campuran bahan bakar bakar nabati ke dalam BBM jenis solar dari 20 persen pada B20, menjadi 35 persen.

“B20 menyedot CPO 9 juta, begitu berubah jadi B35 tambah 4 juta, jadi 13 juta disedot,” ujar Zulhas di Hotel Shangri-La Jakarta, Senin (30/1).

Selain itu, ia mengatakan kelangkaan Minyakita juga dipicu aksi serbu masyarakat karena kualitasnya premium tetapi harganya murah.

“Jadi semua ibu-ibu carinya Minyakita. Padahal jatahnya 300 ribu ton per bulan. Tentu di pasar jadi kurang,” ujarnya.(lio)

Exit mobile version