KOTA BATU – Guna menghindari adanya korban jiiwa akibat bencana yang terjadi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu pasang alat early warning system (EWS). Alat tersebut untuk mendeteksi tanah longsor.
Pemasangan alat ini sendiri sudah dilakukan di beberapa titik. Namun tahun ini BPBD akan kembali melakukan penambahan alat tersebut.
EWS sendiri merupakan sistem yang dirancang untuk memantau, mendeteksi, dan memberikan peringatan dini bahaya longsor. Sistem ini dilengkapi dengan teknikal sensor terdiri dari extensometer (alat deteksi pergerakan tanah secara lateral, vertikal atau relasional), tilt meter (alat deteksi perubahan posisi kemiringan permukaan tanah/batuan pada lereng), dan ultra-sonic water level (alat deteksi perubahan permukaan air pada alur sungai) yang terintegrasi dan terhubung dalam satu server dengan memori digital.
Kepala BPBD Kota Batu, Agung Sedayu mengatakan sudah ada 5 EWS yang dipasang di beberapa titik rawan longsong. Yakni di Desa Sumber Brantas, Dusun Kekep Desa Tulungrejo, Desa Sumbergondo, dan di Desa Gunungsari Kota Batu.
“Terbukti EWS ini sangat efektif untuk mendeteksi dini pergerakan longsong. Seperti beberapa hari lalu di Dusun Brau sempat terjadi longsor, alarm dari alat ini bunyi ketika ada pergerakan tanah sehingga masyarakat bisa mengantisipasi bencana tersebut,” jelas Agung, Kamis (21/1).
Lebih lanjut untuk tahun ini BPBD juga akan menganggarkan 5 unit EWS yang akan di pasang di beberapa titik rawan longsor terutama di kawasan permukiman warga. Meskipun begitu BPBD Kota Batu melakukan tindakan kesiapsiagaan dengan menargetkan 15 unit pemasangan EWS.
“Karena itu kami mengajukan 5 alat pendeteksi longsor tahun 2021. Pengadaan dilakukan secara bertahap. Lima alat tersebut nantinya akan dipasang di pada desa/kelurahan yang rawan terjadi longsor. Seperti permukiman yang disekitarnya terdapat daerah lereng,” bebernya.
BPBD juga telah melakukan pemetaaan beberapa daerah yang rawan longsor. Seperti di Kecamatan Bumiaji meliputi Desa Sumber Brantas, Tulungrejo, Gunungsari, Sumbergondo. Selain itu, satu titik berada di kawasan payung, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu.
“Alat ini nantinya akan mengidentifikasi pergerakan tanah yang dideteksi oleh kabel baja ekstensometer. Sehingga ketika ada pergeseran tanah, alarm akan berbunyi,” ungkapnya.
Untuk harga per unit EWS sendiri membutuhkan anggaran sekitar Rp 110 juta. Dengan rincian ekstensometer sekitar Rp 55 juta dan warning sistemnya sekitar Rp 47 juta. Artinya tahun ini BPBD harus menganggarkan sekitar Rp 550 juta untuk pengadaan alat tersebut.
“Tidak menutup kemungkinan kami juga akan tetap ajukan bantuan alat ini ke BNPB maupun BPBD Provinsi. Karena pusat kan juga sudah pernah memberikan bantuan alat tersebut ke kami. Harapannya bisa kembali dibantu dan tidak memberatkan APBD,” pungkasnya.
Pihaknya juga menghimbauan agar masyarakat yang berada didaerah potensi longsor bisa lebih waspada dan berhati-hati serta tetap tingkatkan kesiapsiagaan.
“Kalau yang daerahnya sudah terpasang EWS bisa tetap memantau alat tersebut untuk melihat pergerakan tanah,” tutupnya.




