Kota Malang, blok-A.com – Belum selesai bernapas dari pemulihan pandemi, para driver ojek online kini mendapatkan masalah baru lagi, terkait naiknya BBM (Bahan Bakar Minyak).
Untuk memastikan, blok-A.com mencari salah satu ojol yang ada di Kota Malang, untuk memberikan suaranya terkait isu tersebut.
Sekitar pukul 09.30, terlihat dari kejauhan ada seorang ojol yang tengah bersantai di dekat Stadion Gajayana Luar Kota Malang. ia pun asyik tengah bermain game, sembari menunggu orderan. Saat ditanya oleh wartawan online, ia pun bersedia untuk memberikan suaranya.
Yono namanya. Pria berusia 56 tahun itu, ternyata sudah terjun ke dunia per-ojolan dari tahun 2016. Karena pekerjaan susah, ia memilih ojol sebagai pekerjaan hariannya.
“Sudah 6 tahun mas. Alasannya ya karena tidak ada kerjaan lain. Kalau ojol kan simple dan gampang,” pungkasnya pada Senin (05/09/2022).
Ia menuturkan bahwa naiknya harga BBM sangat memberatkan dirinya dan rekan ojol lainnya. Yono mengungkapkan bahwa jika BBM naik, harga tarif ojol pun harus naik juga.
“Sangat keberatan mas, kalau bisa setelah naik BBM, ongkosnya ojol naik juga,” ujar Yono.
“Sekarang kan masih tahap pemulihan pandemi, apalagi naiknya sekitar dua ribu, temen-temen juga mengeluhkan hal yang sama di grub,” tuturnya.
Yoni meninta agar pemerintah bisa memperhatikan nasib ojol sekarang. Naiknya harga BBM, begitu cepat sampai kedapa salah satu ojol di Kota Malang itu.
“Kalau pemerintah seenaknya menaikkan ,tidak memikirkan rakyat kecil, kan susah juga. Rakyat kecil ya cuman bisa teriak2 saja,” tegas Yono.
Siasat Yono Terhadap Naiknya BBM

Setelah berbincang sebentar, Yono mengatakan bahwa siasatnya adalah tidak berkeliling ke mana-mana. Ojol sekarang tidak bisa mencari orderan dengan cara menyusuri berbagai tempat, ia pun harus menepi dan menunggu orderan, untuk menghemat bensinnya.
“Adanya cuma ya stay, gak muter muter. Jadi nunggu orderan, biasanya kan muter terus, siasatnya ya sebentar-sebentar berhenti,” tutur Yono.
Yono pun tidak sendirian. Ia rupanya memiliki komunitas ojol Malang Raya, untuk berkeluh kesah ke rekannya. Yang dirasakan rekan seperjuangan pun sama, mengeluh soal naiknya BBM per hari Sabtu, (03/09/2022).
“Banyak mas, saya join Facebook Malang Raya, kalau komunitas ada di Pavilion, Araya, Stasiun juga ada.
“Semua teman teman mengeluh si rata rata.
Belum ada kenaikan tarif, saya harap bisa naik,” ucap Yono.
Ia mengatakan bahwa per kilometer saja hanya mendapatakn ribuan rupiah saja. Saat itu, Yono masih mendapatkan satu orderan saja. Ia berharap menunggu orderan datang, untuk bisa menafkahi anak istrinya dirumah. Yono mengatakan bahwa sistem ojol sekarang memiliki perbedaan yang signifikam.
“Per kilometer seribu berapa gitu, kalau jam segini baru dapat 1 order ini, mau makan gimana. Sekarang dari sistem ojol juga sih, kalau ojol prioritas lewat manapun dapat orderan,” pungkasnya
Perbedaan Sistem Ojol Dulu dan Sekarang Versi Yono
Yono mengatakan bahwa sekarang ada yang namanya ojol prioritas. Kemungkinan seperti reward bagi ojol yang mendapatkan puluhan order perharinya. Ia lebih suka sistem yang dulu.
“Prioritas itu satu hari bisa dapat 30-35 order. Jadi naik terus levelnya. Harusnya sistemnya random, mana yang dekat dapat orderan,” ucap Yono.
“Kadang-kadang teman-teman dapat dua orderan, padahal itu berangkat pagi sampe malam. Saya nongkrong disini belum dapat orderan. Kalau bisa sistemnya dikembalikan lagi kaya jamannya Nadiem, bonus juga ada saat itu,” ujarnya.
Yono mengatakan bahwa mendapatkan Rp 100 ribu itu sangat sulit. Belum ditambah masalah seperti naiknya BBM, otomatis berdampak besar bagi para pekerja yang menggunakan bensin.
“Ojol sekarang Rp 100 ribu itu sulit, kalikan saja trip pendek Rp 7.200 x 15 order, baru dapat Rp 100 ribu. Lah ini jam segini masih belum dapat orderan mas,” ucapnya kepada blok-A.com
Saat awal tahun Yono terjun di dunia per-ojolan, ia mengatakan bahwa ojol dulu bisa mendapatkan uang sebesar Rp 200 ribu perharinya, bahkan hingga Rp 400 ribu. Karena sistem yang baru, ojol pun tidak dapat bonus dan kalah dengan privilage prioritas, karena tidak merata.
“Kalau dulu itu enak, bisa mencari Rp 200 ribu -300 ribu, ada bonus juga. Makanya sekarang bingung kalau dapat orderan jauh, diambil juga bensin udah sedikit,” ucap Yono.
“Dari pihak aplikator itu bagaimana caranya mensejahterakan seperti dulu. Minimal dapat Rp 100 ribu tidak papa, sekarang lho mas berangkat pagi sampe malam dapat dua order saja, kan dapat Rp 14 ribu” tutup Yono.
(mg1/rco)




