Kota Malang, blok-a.com – Berawal dari keresahan terhadap kebisingan sound horeg, seorang warga Malang bernama Andi Surya membuat sebuah website berbasis Early Warning System (EWS) untuk memberikan informasi lokasi penyelenggaraan sound horeg di wilayah Malang Raya.
Website tersebut dibuat agar masyarakat dapat mengetahui lebih awal lokasi acara sound horeg yang akan berlangsung sehingga bisa menjadi peringatan bagi warga yang ingin menghindari area dengan tingkat kebisingan tinggi.
Andi mengatakan ide tersebut muncul dari keresahan pribadinya terhadap suara sound horeg yang dinilai terlalu keras. Menurutnya, fenomena tersebut hampir selalu muncul setiap tahun, terutama mulai Juli hingga akhir tahun.
“Berawal dari keresahan diri sendiri soal suara sound horeg yang terlalu keras dan membuat tidak nyaman. Kalau dilihat polanya, hampir tiap tahun mulai bulan Juli sampai akhir tahun, sound horeg ini mesti ada di area Malang Raya. Dari situ akhirnya kepikiran, bagaimana kalau informasi sound horeg ini dikumpulkan, biar nanti jadi warning bagi diri sendiri, terus masyarakat yang juga tidak nyaman terkait event ini,” ujarnya kepada blok-a.com.
Website tersebut dikembangkan dalam waktu sekitar tiga hari dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“Sekitar tiga hari, dibantu sama AI,” katanya.
Untuk proses pembuatannya, Andi mengaku tidak mengeluarkan biaya besar. Ia memanfaatkan layanan AI yang telah ia langgani untuk membantu proses coding. Biaya yang dikeluarkan hanya untuk pembelian domain website.
“Kebetulan saya langganan AI yang bisa buat coding juga, jadi saya manfaatkan AI itu. Selain itu saya juga beli domain, selebihnya hampir tidak ada biaya,” jelasnya.
Dalam pengoperasiannya, sistem secara otomatis mengumpulkan informasi agenda sound horeg yang akan datang dari berbagai media sosial, seperti TikTok, Instagram, Threads, hingga Facebook. Namun, menurut Andi, sebagian besar informasi justru diperoleh dari TikTok.
“Yang pertama, saya buat sistem otomatis untuk ambil semua event sound horeg yang ada di Malang Raya dan sekitarnya. Saya ambil dari berbagai media sosial seperti TikTok, Instagram, Threads, dan Facebook. Menariknya, hampir semua event didapat sistem dari TikTok,” katanya.
Ia menjelaskan, sistem kemudian memperkirakan tingkat kebisingan setiap event pada kisaran 100 hingga 135 desibel. Berdasarkan estimasi tersebut, website menghitung radius paparan suara menggunakan rumus tertentu, kemudian membaginya ke dalam tiga kategori, yakni area dengan paparan suara di atas 75 desibel, 65 desibel, dan 55 desibel. Hasil perhitungan tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk lingkaran pada peta.
Andi menambahkan, website hanya menampilkan agenda sound horeg yang akan datang. Sementara event yang telah selesai tidak lagi dimasukkan ke dalam sistem.
Selain itu, website juga memiliki fitur “Cek Lokasi Saya” yang memanfaatkan lokasi pengguna untuk mengetahui apakah posisinya berada di dalam radius paparan suara dari agenda sound horeg yang akan digelar.
“Yang pertama memang karena resah, biar ada warning bagi yang tidak suka sound horeg. Karena bagaimanapun, event ini juga banyak yang suka. Selain itu, karena iseng saja sih, dan juga pingin nambah-nambah portofolio,” tutup Andi. (bob)




