Sumenep, blok-a.com – Meski sudah 77 tahun Indonesia Merdeka, Namun hingga peringatan 17 Agustus 2022, keberadaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep masih saja langka. Padahal di pulau itu, sudah terdapat 2 Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) sebagai solusi dari kepanjangan tangan Pertamina.
Kemarahan masyarakat memuncak lantaran distribusi BBM dari Pertamina kepada 2 agen APMS di kepulauan hanya bertahan paling lama 1 minggu, stok BBM sudah habis. Terkadang 5 hari sudah habis.
Protes bertubi-tubi masyarakat atas terjadinya kelangkaan BBM di Pulau Masalembu tak membuahkan hasil. Padahal BBM khususnya jenis solar satu-satunya nyawa bagi masyarakat di Masalembu dalam mencari kehidupan keluarga yang notabene sebagai nelayan.
Tak kuat menahan kemarahannya, sebelumnya masyarakat dari Persatuan Konsumen BBM Masalembu geruduk Kantor Syahbandar setempat. Mereka pertanyakan kelangkaan BBM tersebut yang ditemui Kepala Syahbandar, Lada Senin (15/8/2022).
Bahkan lantaran tidak ditemukan solusi atasi kelangkaan BBM, masyarakat kembali menggeruduk Markas Polsek Masalembu dan Kantor Kecamatan Masalembu, pada Kamis (18/8/2022).
Kepada awak media, Imam Gusti Randa selaku Sekretaris Persatuan Konsumen BBM Masalembu mengemukakan kedatangannya ke Markas Polsek Masalembu untuk menyampaikan terkait tingginya harga BBM Jenis Solar yang ada di pasaran. Bahkan dugaan adanya penimbunan BBM yang dilakukan oleh beberapa oknum.
“Selain itu, beberapa toko/kios ada yang menjual dengan harga lebih tinggi dari pada harga yang sudah ditentukan oleh APMS, yakni Rp7.500 per liter,” bebernya, Kamis (18/8) malam.
Imam menegaskan Persatuan Konsumen BBM Masalembu meminta agar Polsek harus menindak tegas jika ditemukan adanya penimbunan. Sebab kondisi saat ini masyarakat benar-benar kebingungan untuk membeli Solar. Apalagi sekarang sedang musim ikan, jadi mayoritas nelayan sebagai konsumen banyak yang bekerja (melaut).
Pihaknya juga menyampaikan temuan yang ada di lapangan kepada Camat Masalembu sebagai kepanjangan tangan dari Bupati Sumenep. Sayangnya, camat baru itu langsung membantah. Dari pengakuan Camat kepada Haerul, kelangkaan BBM itu hanya terjadi di Desa Sukajeruk, tidak di Desa Masalima.
Tidak terima dengan keterangan Camat, lantas Haerul dan beberapa konsumen dari Desa Masalima mempertanyakan data yang disampaikan oleh Camat Masalembu. Bahkan pihaknya lantas mengajak langsung Camat untuk melihat kelapangan.
Haerul menyesalkan tentang apa yang disampaikan oleh Camat Masalembu soal kelangkaan BBM yang hanya diakui terjadi di Desa Sukajeruk.
Ini nenunjukkan bahwa camat ini jarang ada di Masalembu, sehingga tidak tau kondisi yang terjadi di lapangan atau ditengah-tengah masyarakat seperti apa,” tuding Haerul.
Namun sayangnya saat dihubungi awak media, nomor Camat Masalembu Achmad Auzia Rahman, tidak bisa dihubungi kala itu. (Aldo/Gatut)




