Kota Malang, blok-a.com – Puluhan sekolah dasar (SD) negeri di Kota Malang belum berhasil memenuhi kuota peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang menilai kondisi tersebut lebih dipengaruhi berkurangnya jumlah anak usia sekolah dasar dibandingkan pergeseran minat masyarakat ke sekolah swasta.
Kepala Disdikbud Kota Malang, Suwarjana, mengatakan sekitar 15 persen dari total 195 SD negeri di Kota Malang masih mengalami kekurangan murid. Jika dihitung, jumlahnya mencapai sekitar 29 sekolah.
Ia menyebut faktor kekurangan murid di SD negeri ini gegara berkurangnya anak yang berusia memasuki SD. Ini juga bukti berhasilnya program Keluarga Berencana (KB)
“Faktornya karena keberhasilan KB. Sekarang anak usia SD kan juga sudah berkurang. Bukan karena (memilih) di sekolah swasta,” kata Suwarjana, Rabu (15/7/2026).
Ia menambahkan, sekolah yang kekurangan peserta didik sebagian besar berada di kawasan perbatasan Kota Malang dengan Kabupaten Malang. Namun, beberapa sekolah di wilayah perkotaan juga menghadapi persoalan serupa.
“Mayoritas di pinggiran, perbatasan antara kabupaten dengan Kota Malang. Ada yang di sana ada di Bandulan, Mulyorejo, kalau yang di sini ada di Tasikmadu, juga Jatimulyo,” tambahnya.
Suwarjana mengungkapkan, ada sekolah yang hingga kini baru memperoleh sekitar enam siswa baru.
“Kalau yang sedikit muridnya itu di Jatimulyo, Tasikmadu. Sekitar 6 siswa kalau gak salah,” imbuhnya.
Untuk mengisi kekurangan tersebut, Disdikbud masih membuka jalur pendaftaran secara luring (offline). Kebijakan ini juga memberi kesempatan bagi calon peserta didik yang berdomisili di luar Kota Malang untuk mendaftar ke sekolah negeri yang belum memenuhi kuota.
“Untuk pemenuhan siswa yang masih belum terpenuhi bisa dilakukan lewat offline. Contoh, (pendaftaran serentak) kemarin kan kalau yang luar kota pasti gak bisa. Untuk yang offline, ini yang luar kota di luar Kota Malang bisa masuk untuk memenuhi,” jelasnya.
Di sisi lain, ia menyebut sekolah dasar swasta di Kota Malang relatif tidak mengalami kendala dalam penerimaan siswa baru. Salah satu penyebabnya, sekolah swasta dapat memulai proses penerimaan lebih awal dibandingkan sekolah negeri yang harus mengikuti jadwal serentak.
“Yang jelas, swasta itu kan lebih awal malah dia menerimanya, karena diperbolehkan. Kalau negeri kan harus serentak. Jadi mereka saya kira gak ada yang kesulitan,” pungkasnya. (yog/bob)




