Siap Kerja! Ada Program Magang Digaji untuk Fresh Graduate Mulai Oktober 2025

Mahasiswa Magang Unitri dan redaksi blok-a.com Bukber, Selasa (25/3/2025) (blok-a.com/Zul)
Mahasiswa Magang Unitri dan redaksi blok-a.com Bukber, Selasa (25/3/2025) (blok-a.com/Zul)

Blok-a.com – Pemerintah tengah menyiapkan sebuah program baru yang ditujukan khusus bagi para fresh graduate atau lulusan baru perguruan tinggi. Program ini membuka peluang magang di berbagai perusahaan, baik milik negara (BUMN) maupun perusahaan swasta, yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa program magang yang dirancang pemerintah bagi para fresh graduate atau lulusan baru perguruan tinggi dijadwalkan mulai berjalan pada kuartal IV atau Oktober 2025. Program tersebut akan dilaksanakan serentak di seluruh wilayah Indonesia.

“Kita berharap di kuartal IV bisa dimulai,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (16/9), dikutip dari Merdeka.

Sekilas Program

Tujuan utama dari inisiatif ini adalah memberikan kesempatan bagi para lulusan baru untuk memperoleh pengalaman kerja langsung di lapangan. Sekaligus mengurangi angka pengangguran di kalangan sarjana yang selama ini cukup tinggi.

Program ini dirancang agar menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan industri melalui konsep link and match. Di mana perguruan tinggi dan dunia usaha bekerja sama menyediakan posisi magang yang sesuai dengan keahlian lulusan.

Airlangga menekankan bahwa program ini tidak sekadar magang pada umumnya, melainkan sebuah skema link and match yang menghubungkan lulusan baru dengan kebutuhan dunia industri. Pelaksanaannya dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta sektor industri. Setiap wilayah nantinya akan menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja lokal dengan jumlah peserta magang yang tersedia.

Link and match kita atur pusat, tetapi perguruan tinggi di daerah diharapkan lulusannya dipekerjakan dengan industri di daerah, misalnya Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten. Kecuali di daerah 3T, kita harus pindahkan mereka sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia,” jelas Airlangga, dikutip dari Kompas.

Program ini memiliki anggaran sebesar 198 miliar dan memberikan insentif berupa uang saku kepada peserta selama masa magang berlangsung. Pemerintah memastikan bahwa para peserta akan menerima kompensasi setara Upah Minimum Provinsi (UMP) di daerah tempat mereka menjalani magang. Dalam perhitungan umum, nominal ini berkisar sekitar Rp3,3 juta per bulan.

“Selama proses bekerja diberikan uang satu sebesar upah minimum, UMP. Dan ini untuk 6 bulan, dan anggarannya sudah disediakan sebesar Rp198 miliar,” jelas Airlangga, dikutip dari Merdeka.

Syarat dan Ketentuan Program Magang Digaji untuk Fresh Graduate

Untuk mengikuti program ini, pemerintah telah menetapkan sejumlah syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh calon peserta.

Syarat utama adalah peserta merupakan lulusan perguruan tinggi, baik jenjang D3 maupun S1, dengan masa kelulusan maksimal satu tahun sebelum pendaftaran. Artinya, program ini benar-benar menyasar para fresh graduate yang baru menamatkan pendidikannya dan belum memiliki pengalaman kerja panjang.

Selain itu, dalam program ini tidak ada batasan usia, yang terpenting adalah status kelulusan peserta masih dalam rentang waktu yang ditentukan tersebut.

Selain ketentuan peserta, ada pula ketentuan mengenai pelaksanaan magang. Program ini akan berlangsung selama enam bulan penuh, dan selama itu peserta akan menerima uang saku setiap bulan setara UMP yang berlaku di provinsi tempat mereka ditempatkan.

Skema pembayaran akan dilakukan langsung oleh pemerintah melalui mekanisme yang akan ditetapkan kemudian, sehingga perusahaan tempat magang tidak terbebani secara finansial. Target kuota pada tahap awal adalah sebanyak 20.000 peserta yang tersebar di seluruh Indonesia.

Untuk lulusan perguruan tinggi yang telah melewati satu tahun sejak wisuda namun masih belum memperoleh pekerjaan, disediakan program lain melalui Kementerian Ketenagakerjaan.

“Mereka (Kemenaker) membuat program peningkatan produktivitas, antara lain dengan melakukan re-training, dan re-skilling. Jadi, itu jalur yang sesuai dengan program di Kementerian Ketenagakerjaan,” ungkap Airlangga, dikutip dari Kompas, Senin (15/9/2025). (mg2/gni)

Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)

Exit mobile version