Menkeu Purbaya Berencana Alihkan Program MBG Diganti Bantuan Beras

Silvie, Murid SMPN 19 yang menerima program MBG (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Silvie, Murid SMPN 19 yang menerima program MBG (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Blok-a.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah siap melakukan realokasi anggaran dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bantuan langsung berupa beras 10 kilogram jika hingga akhir oktober 2025 dana MBG tidak terserap maksimal. Hal ini disampaikan dalam pernyataan resminya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat (19/9/2025) sebagai bagian dari upaya memastikan anggaran negara digunakan dengan efisien dan dapat langsung memberi manfaat kepada masyarakat.

“Saya akan alihkan ke tempat lain yang lebih siap atau ke masyarakat, seperti perluasan bantuan yang 2 kali 10 kilogram beras,” kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (19/9/2025), dikutip dari Kompas.

Ia menegaskan, kebijakan tersebut sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menegur Badan Gizi Nasional (BGN), melainkan sebagai upaya mendorong percepatan penyerapan anggaran. Menurutnya, apabila BGN mampu menyerap dengan baik tentu lebih ideal.

“Bukan negur, kita membantu. Kita bantu secepatnya, tapi kalau enggak bisa juga, kita ambil duitnya. Kan gitu fair, kan. Daripada nganggur duitnya, kan saya bayar bunga juga,” tuturnya.

Program MBG pada dasarnya bertujuan meningkatkan gizi anak-anak sekolah, khususnya di daerah-daerah yang tertinggal. Namun, dalam pelaksanaannya, beberapa masalah mulai muncul.

Program yang semula diharapkan menjadi kebijakan populer ini justru memicu gelombang kritik. Sejumlah orang tua mengeluhkan mutu makanan yang diberikan, sementara guru serta pihak sekolah dibuat bingung oleh teknis pelaksanaan distribusinya. Pelaksanaan di lapangan pun belum optimal dikarenakan koordinasi antara penyedia katering, sekolah, dan instansi terkait yang belum berjalan dengan baik.

Karena itu, realokasi ke bantuan beras 10 kg dilihat sebagai opsi yang lebih cepat disalurkan dan lebih mudah dilaksanakan. Tetapi opsi ini juga memiliki tantangan tersendiri: misalnya isu distribusi beras, target penerima yang sesuai, dan menjaga agar bantuan tetap tepat sasaran.

Badan Gizi Nasional (BGN) melaporkan bahwa hingga Agustus 2025, realisasi anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) baru mencapai Rp13,2 triliun. Jumlah tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan total anggaran MBG yang disediakan sebesar Rp171 triliun.

Dana untuk program ini dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang sebagian besar sekitar 70 persen bersumber dari penerimaan pajak sebagai komponen utama pendapatan negara.

Purbaya mengatakan bahwa jika hingga akhir Oktober 2025, penyerapan anggaran MBG tidak berjalan sesuai target, maka dana yang “nganggur” tersebut akan dialihkan. Ia menegaskan bahwa patroli anggaran akan mulai dijalankan pada pekan depan, dengan daftar kementerian dan lembaga yang akan diperiksa masih dalam proses penyusunan.

“Nanti minggu depan saya mulai jalan. Nanti (kementeriannya) kita lihat mana yang paling pas,” ucap Purbaya.

Sebelumnya diberitakan, Purbaya akan merealokasi anggaran belanja pemerintah yang masih belum terserap, termasuk juga anggaran program MBG. Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap anggaran belanja dapat segera terserap maksimal untuk menggerakkan perekonomian.

“Yang MBG treatment-nya sama, treatment-nya akan sama,” ujarnya saat bincang-bincang bersama awak media. (mg2)

Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)

Exit mobile version