blok-a.com – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas atau yang akrab disapa Gus Yaqut, belakangan ini menjadi perbincangan publik setelah dirinya melontarkan pernyataan ‘Islam dari tanah Arab’ di Podcast Dedy Corbuzier.
Dalam podcast, Yaqut mengatakan kepada Dedy bahwa agama Islam bukanlah berasal dari Indonesia, melainkan agama yang berasal dari Arab. Agama Islam di Indonesia menurutnya hanyalah pendatang.
Pernyataan itu pun sontak menjadi trending topik di Twitter dan menuai kritikan dari warganet. Mereka menganggap bahwa tak seharusnya ia mengatakan hal tersebut, mengingat bahwa dirinya merupakan Menteri Agama.
Tak hanya menuai hujatan dari warganet. Bahkan pernyataan Yaqut juga mengundang kritikan dari tokoh agama Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab.
Sebelumnya, Yaqut juga pernah terlibat sejumlah kontroversi hingga dirinya menjadi bulan-bulanan warganet. Lantas apa saja kontroversi tersebut? Simak daftar kontroversi Yaqut berikut ini.
- Melindungi Kaum Syiah dan Ahmadiyah
Menteri Agama, Yaqut membuat sebuah kebijakan yang mengafirmasi hak beragama bagi kelompok Syiah dan Ahmadiyah. Hal tersebut dikarenakan semua warga negara memiliki kedudukan yang sama. Yaqut menyatakan bahwa, dirinya siap memfasilitasi dialog untuk menjembatani berbagai macam perbedaan. - Mengucapkan Selamat Hari Raya ke Komunitas Baha’i
Pada Juli 2021, Menag Yaqut kembali menuai kontroversi dengan memberikan ucapan selamat Hari Raya Naw Ruz 178 EB. Ucapan tersebut menuai kontroversi karena Baha’i dianggap sebagai salah satu aliran sesat di Indonesia. - Mengusulkan Doa Semua Agama untuk Mengawali Rakernas Kemenag
Kontroversi selanjutnya yang dilakukan oleh Yaqut adalah mengusulkan doa semua agama untuk mengawali Rakernas Kemenag. Ia meminta semua kegiatan Kemenag tidak hanya diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran melainkan semua agama yang diakui di Indonesia. - Membandingkan Suara Toa Masjid dengan Gonggongan Anjing
Gus Yaqut kembali menuai kontroversi terkait Surat Edaran (SE) Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Aturan tersebut dianggap membuat masyarakat semakin harmonis dan ia pun menegaskan tidak ada pelarangan penggunaan pengeras suara di tempat ibadah.
Menanggapi kontroversi kebijakan tersebut, ia kemudian mengumpamakan suara adzan yang bersaut-sautan dengan anjing yang menggonggong dalam waktu bersamaan.
(hen)




