Blok-a.com – Belakangan, warganet ramai membicarakan kemunculan video pendek Presiden RI Prabowo Subianto yang diputar sebelum pemutaran film di sejumlah bioskop di Indonesia. Tayangan berdurasi singkat itu menampilkan potongan kegiatan Prabowo di lapangan, pernyataan-pernyataannya, serta berbagai capaian program pemerintah saat ini.
Video ini diketahui muncul di layar besar bioskop sebelum film utama dimulai, bersamaan dengan deretan iklan komersial lainnya. Dalam tayangan tersebut, terdapat sejumlah klaim data capaian pemerintah, seperti produksi beras nasional, ekspor jagung, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Fenomena ini pertama kali viral di media sosial setelah sejumlah penonton mengunggah rekaman video tersebut. Meski demikian, hingga kini, belum ada data resmi mengenai berapa bioskop yang menayangkan video ini atau durasi penayangan yang direncanakan.
Tuai Kritik dari Publik
Fenomena tersebut membikin sejumlah pihak berpandangan miring, terutama para penonton bioskop. Beberapa penonton mengaku heran dengan kemunculan iklan pemerintah tersebut di ruang hiburan.
Salah satu penonton bernama Dira (26) mengungkapkan keterkejutannya saat melihat tayangan capaian pemerintahan Prabowo muncul di layar bioskop sebelum film dimulai. Saat itu, ia tengah menonton film The Conjuring: Last Rite di Bioskop XXI Living World Grand Wisata, Bekasi, pada Jumat (12/9/2025).
Menurut Dira, penayangan video pemerintah di bioskop terasa janggal karena ruang bioskop bersifat tertutup dan hanya bisa diakses oleh penonton yang membeli tiket. Ia menilai tempat penayangan yang dipilih kurang tepat karena justru bisa menimbulkan kesan kampanye terselubung.
“Agak aneh saja. Kayak campaign terselubung. Soalnya jujur aku enggak pernah lihat iklan itu,” kata Dira kepada tvOnenews, Minggu (14/9/2025), dikutip dari Tvone.
Dira menilai pesan pemerintah sebaiknya ditayangkan di media yang lebih terbuka dan bisa diakses publik luas, seperti billboard, videotron, televisi, atau media sosial.
Menurutnya, menayangkan iklan pemerintah di ruang tertutup seperti bioskop justru dapat menimbulkan persepsi liar di kalangan masyarakat. “Karena jadi menimbulkan perspektif-perspektif yang liar juga, kan?”
Akademisi dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Martin Suryajaya, memiliki pendapat berbeda. Ia menilai bahwa penayangan video tersebut di bioskop justru menunjukkan gejala hubungan pemerintah-warga yang terputus.
“Jika pemerintah merasa sangat perlu mengumumkan sudut pandangnya, kalau perlu dengan diwajibkan di bioskop. Maka itu tanda bahwa sudut pandangnya semakin tidak nyambung dengan sudut pandang warga sehari-hari,” kata Martin kepada Tempo, Senin, (15/9/2025).
Doktor filsafat lulusan STF Driyarkara ini juga, menyatakan bahwa tayangan wajib untuk mempromosikan pemerintah, umumnya hanya terjadi di era propaganda seperti saat Perang Dunia II. Menurutnya, metode promosi seperti ini sudah tidak relevan dan terkesan konyol di zaman modern.
Istana Menilainya Wajar
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi buka suara menanggapi penayangan video Presiden Prabowo Subianto di bioskop. Ia menilai penggunaan media publik untuk menyampaikan pesan pemerintah merupakan hal yang wajar dilakukan, selama tidak menyalahi aturan yang ada.
“Tentunya sepanjang tidak melanggar aturan, tidak mengganggu kenyamanan, keindahan, maka penggunaan media-media publik untuk menyampaikan sebuah pesan tentu sebuah hal yang lumrah,” kata Prasetyo, Minggu (14/9/2025), dikutip dari Kompas.
Prasetyo menjelaskan bahwa ruang publik memang dapat dimanfaatkan untuk berbagai bentuk komunikasi, termasuk dari pemerintah kepada masyarakat. Selama tidak menimbulkan gangguan atau pelanggaran, maka tidak ada larangan khusus yang melarang hal tersebut.
Kepala Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO), Hasan Nasbi, turut memberikan penjelasan. Ia juga menegaskan keberadaan bioskop sebagai ruang publik prinsipnya dapat pula dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan dari pemerintah.
Hasan juga menegaskan bahwa tujuan utama penayangan video ini bukanlah untuk berkampanye, melainkan agar masyarakat memahami apa yang telah dikerjakan pemerintah selama ini. Menurutnya, pesan-pesan pemerintah memang perlu disebarluaskan agar publik mengetahui hasil kerja pemerintahan saat ini.
“Pemerintah mau sosialisasi ke seluruh rakyat Indonesia tentang apa yang dikerjakan oleh pemerintah. Agar masyarakat paham banyak hal sudah dikerjakan oleh pemerintah,” ujarnya.
Tanggapan Pihak Bioskop
Salah satu jaringan bioskop terkemuka Indonesia, Cinema XXI, akhirnya juga turut memberikan konfirmasi. Tentang tayangan video Presiden RI sebelum film itu merupakan bagian dari Iklan Layanan Masyarakat (ILM). Pemutaran tersebut berdurasi selama satu minggu, sejak hari Selasa (9/9/2025) sampai Minggu (14/9/2025).
“Terkait hal ini yang dapat kami sampaikan bahwa Cinema XXI menyediakan ruang bagi penyampaian informasi publik dari pemerintah, dalam bentuk Iklan Layanan Masyarakat. Adapun penayangan seputar kinerja kabinet Presiden Prabowo merupakan ILM yang ditayangkan selama satu minggu, yakni 9–14 September 2025,” demikian bunyi pernyataan resmi Indah Tri Wahyuni selaku Corporate Secretary Cinema XXI, dikutip dari Kompas TV, Selasa (16/9/2025).
Video yang beredar sendiri menampilkan berbagai capaian pemerintahan saat ini.
Antara lain 21.760.000 ton total produksi beras nasional hingga Agustus 2025, ekspor jagung perdana sebanyak 1.200 ton, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut telah menjangkau 20 juta penerima manfaat sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025.
Selain itu, ditampilkan juga peluncuran 80 ribu kelembagaan Koperasi Desa Merah Putih serta pembukaan 100 Sekolah Rakyat.
(mg2/gni)
Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)





